
Arsenal Tekuk Everton 2-0, Samai Poin Manchester City
19 menit yang lalu
Tokoh Suku Bajo dari Torosiaje, Pohuwato, dihargai atas lebih dari 20 tahun menjaga ekosistem mangrove.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, tokoh konservasi mangrove dari Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Umar Pasandre menerima BIA Award dari Burung Indonesia atas dedikasinya menjaga kelestarian ekosistem mangrove selama lebih dari 20 tahun.
Penghargaan itu diberikan dalam kegiatan Merayakan Keragaman Burung Indonesia, yang diselenggarakan Burung Indonesia bersama Biodiversitas Gorontalo (BIOTA) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Kegiatan berlangsung di Auditorium Kampus I UNG pada Sabtu (24/10/2026) sebagai bagian dari rangkaian Festival Bulalo Limutu yang digelar Limutu Ecologe, meliputi perkemahan pelatihan pemuda dan penganugerahan BIA Award 2026.
Menurut laporan yang sama, penghargaan diberikan sebagai apresiasi atas upaya Umar bersama kelompok konservasi Padakauang menjaga lingkungan pesisir di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Manajer Komunikasi dan Pengembangan Kelembagaan Burung Indonesia, Muhammad Meisa, mengatakan BIA Award merupakan bentuk apresiasi bagi individu maupun kelompok yang berkontribusi dalam kegiatan konservasi di berbagai wilayah Indonesia.
"Harapannya, dengan kehadiran Pak Umar hari ini dan penyematan penghargaan ini, dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman semua," kata Meisa.
Meisa menjelaskan, Umar adalah tokoh masyarakat Suku Bajo yang berperan mendorong kesadaran warga untuk menjaga hutan mangrove di Torosiaje. Menurut dia, masyarakat setempat sebelumnya memanfaatkan mangrove sebagai bahan penopang rumah dan kayu bakar, lalu Umar mendorong penanaman kembali dan perlindungan mangrove seiring tumbuhnya kesadaran akan kelestarian lingkungan. Upaya itu diperkuat melalui kelompok sadar lingkungan Padakauang agar kegiatan konservasi lebih terstruktur dan memperoleh dukungan berbagai pihak.
Meisa menambahkan, mangrove tidak hanya penting untuk menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga membantu mengurangi risiko abrasi dan menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana di kawasan tersebut.
Umar mengatakan penghargaan itu menjadi motivasi untuk terus melanjutkan upaya konservasi bersama masyarakat dan berbagai pihak yang selama ini mendukung kegiatannya. "Apa yang kami lakukan mungkin nilainya masih kecil, tetapi di mata orang lain itu besar. Harapan saya ke depan ini memberikan motivasi untuk saya, keluarga, dan masyarakat," ujar Umar.
Ia menyampaikan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan sendiri dan membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), pemerintah daerah, dan kalangan akademisi UNG. Umar juga mengatakan akan terus mengabdikan diri untuk menjaga kelestarian lingkungan selama masih diberi kekuatan.
Umar berharap penghargaan tersebut mendorong generasi muda terlibat dalam pelestarian lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan generasi mendatang. "Apabila lingkungan kita rusak, maka kita tidak dapat memperoleh apa-apa dari alam," katanya pula.