
Menpora Minta Evaluasi Keselamatan Atlet Porprov
12 menit yang lalu
Budidaya ikan menghadapi tekanan, sementara pariwisata menjadi sumber ekonomi lain bagi warga Jagara.
Terbit · 2 min read

Laporan ANTARA mengulas perubahan sumber penghidupan warga Desa Jagara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dari budidaya ikan di Waduk Darma hingga pengembangan pariwisata. Waduk itu dibangun untuk mengamankan pasokan air irigasi tebu dan mulai beroperasi pada 1962 untuk menopang irigasi pertanian di Kuningan dan Cirebon.
Waduk Darma disebut memiliki luas sekitar 440 hektare, sedangkan wilayah perairan yang menjadi bagian aktivitas warga Jagara sekitar 130 hektare. Dalam laporan yang sama, Kepala Desa Jagara Umar Hidayat menyebut produksi ikan desa turun dari delapan ton per bulan menjadi sekitar 2,1 ton; penurunan mulai terasa sejak pandemi COVID-19.
Desa Jagara masih memiliki sekitar 230 petani keramba jaring apung dengan 7.000 petak. Saat ditemui ANTARA pada Selasa (23/9), Juned, warga yang telah lebih dari 20 tahun membudidayakan ikan di kawasan itu, mengatakan ia sedang mengelola empat kolam.
Harga pakan mencapai Rp14.000 per kilogram, sedangkan harga jual ikan berkisar Rp23.000-Rp24.000 per kilogram. Selisih harga tersebut harus menutup biaya operasional dan risiko kematian ikan.
Umar mengatakan petani mengurangi pemberian pakan, segera memanen ikan berukuran besar, dan menekan jumlah benih baru. Muka air waduk juga disebut berada sekitar empat hingga lima meter di bawah kondisi normal, sehingga kebutuhan budidaya perlu diatur bersama pasokan air untuk irigasi ke wilayah hilir.
Sebagian warga mulai menggarap kebun sebagai pekerjaan sampingan. Pemerintah Desa Jagara telah berkomunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai setempat untuk membahas pengaturan pemanfaatan air; laporan ANTARA juga menyebut akses modal menjadi tantangan setelah sebagian petani kesulitan membayar pinjaman saat pandemi. Perubahan kondisi air saat pergantian musim disebut dapat memicu kematian ikan.
Peluang pemasaran ikan muncul melalui kerja sama Desa Jagara dengan 11 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kuningan dan Majalengka. Kebutuhannya diperkirakan sekitar 70 kilogram ikan per hari, terutama nila dan mas, tetapi kapasitas produksi petani keramba jaring apung belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasar tersebut.
Desa juga mengembangkan pariwisata melalui Badan Usaha Milik Desa Mekarjaya, yang dibentuk pada 23 November 2022. Direktur BUMDes Mekarjaya Sopian mengatakan pengembangan dilakukan bersama investor lokal, termasuk kerja sama pengelolaan kawasan Waduk Darma dengan PT Jaswita. Wahana yang disebut dalam laporan meliputi wisata perahu, banana boat, jetski, serta aktivitas offroad dan onroad; restoran terapung masih berupa rencana pembangunan.
Data desa yang dikutip ANTARA mencatat sekitar 1.076 dari 2.800 penduduk terlibat dalam kegiatan ekonomi terkait pariwisata. Rinciannya meliputi 243 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, sekitar 70 pekerja parkir, 131 penjual tutut, serta lebih dari 200 warga dalam jasa pendukung wisata. Kawasan wisata yang dikelola BUMDes disebut dapat menerima sedikitnya 130.000 kunjungan per bulan. Kontribusi BUMDes terhadap pendapatan asli desa naik dari Rp69 juta pada 2023 menjadi Rp128 juta pada 2024 dan Rp588 juta pada 2025; Rp680 juta pada 2026 dan Rp1 miliar pada 2027 merupakan target.