
Bima Sakti Siapkan Rotasi Persela Hadapi De Red FC
12 menit yang lalu
AFJ menilai kolaborasi lintas pihak diperlukan agar komitmen telur bebas sangkar terwujud dalam praktik.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Animal Friends Jogja (AFJ) menilai penguatan komunikasi dan kolaborasi antara perusahaan, pemasok, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan agar komitmen penggunaan telur unggas bebas sangkar menjadi implementasi yang konkret, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan AFJ, Elly Mangunsong, menyampaikan hal itu dalam keterangannya di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026). "Komitmen terhadap telur bebas sangkar merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar diterapkan dalam praktik," kata Elly.
Menurut Elly, transisi ini bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan ayam petelur. Sistem bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak lebih leluasa dan mengekspresikan perilaku alaminya dibandingkan sistem kandang baterai.
Ia mengatakan komitmen perusahaan untuk beralih ke telur bebas sangkar perlu diimbangi kesiapan rantai pasok yang mampu memenuhi kebutuhan industri secara konsisten. Ketersediaan pasokan, biaya, standar kualitas, distribusi, ketertelusuran, dan verifikasi produk disebut sebagai aspek penting agar komitmen itu dapat diterapkan dalam operasional bisnis.
Menurut laporan yang sama, hal tersebut terungkap pada acara Corporate Roundtable Discussion 2026 yang diselenggarakan AFJ. Kegiatan itu mempertemukan perusahaan, produsen telur bebas sangkar, pemerintah, dan organisasi kesejahteraan hewan untuk membahas tantangan implementasi serta peluang kolaborasi memperkuat rantai pasok telur bebas sangkar di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Ketua Kelompok Substansi Penerapan, Pengawasan, dan Sertifikasi Mutu Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Boethdy Angkasa, menyampaikan bahwa pemerintah akan mendukung transisi menuju sistem bebas sangkar. Dukungan itu disebut sebagai bentuk diferensiasi produk yang berpotensi dipromosikan melalui tren gaya hidup sehat.
Tri Widiantoro dari Chocolate Monggo menekankan pentingnya mengintegrasikan praktik pengadaan yang bertanggung jawab ke dalam keputusan bisnis sekaligus edukasi konsumen. "Pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab perlu menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar beban tambahan bagi perusahaan," katanya.
Dari hasil diskusi kelompok terarah, peserta mengidentifikasi tiga tantangan utama implementasi telur bebas sangkar. Tantangan itu adalah keterbatasan pasokan dan informasi mengenai peternakan bebas sangkar, rendahnya kesadaran masyarakat, serta harga telur bebas sangkar yang lebih tinggi dibandingkan telur dari kandang baterai.
Perusahaan yang telah berkomitmen mengungkapkan bahwa kendala pasokan dapat diatasi melalui kerja sama dengan lebih dari satu peternak. Peningkatan kesadaran konsumen perlu didorong lewat penyebaran informasi yang relevan dan mengikuti perkembangan zaman, sedangkan penerapan komitmen 100 persen telur bebas sangkar dapat dilakukan bertahap untuk mengatasi tantangan harga.