
MotoGP Australia 2026 Mundur 2,5 Jam karena Hujan
12 menit yang lalu
BI menurunkan GWM secara bertahap untuk menambah likuiditas perbankan dan menyeimbangkannya dengan suku bunga acuan BI.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Bank Indonesia (BI) akan melepas tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun ke perbankan melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 1 persen. Dana itu menjadi bagian dari strategi BI menyeimbangkan likuiditas perbankan sekaligus memperkuat transmisi kebijakan suku bunga ke sektor ekonomi.
Kepala Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan hal itu dalam taklimat media BI pada Jumat (23/10/2026). Menurut dia, penurunan GWM dilakukan karena pertumbuhan kredit perbankan masih lebih tinggi daripada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Menurut laporan yang sama, GWM bank umum konvensional sebelumnya ditetapkan 9 persen dan akan diturunkan menjadi 7 persen secara bertahap. Penurunan dilakukan masing-masing 1 persen mulai 1 November dan 1 Desember 2026, dengan perkiraan tambahan likuiditas sekitar Rp190 triliun ke sistem perbankan.
Firman menyebut hanya sekitar 1 persen dari total penurunan 2 persen itu yang berasal dari dana yang masih tersimpan di BI. Pelepasan 1 persen inilah yang memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun, sedangkan komponen lainnya terkait fasilitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Soal arah penggunaan dana, Firman menegaskan tambahan likuiditas tidak otomatis diarahkan ke satu sektor tertentu. Bank memperoleh ruang lebih fleksibel untuk mengelola dana tersebut tanpa harus mengaitkannya dengan kredit tertentu.
Firman juga menyatakan tambahan likuiditas itu tidak ditujukan untuk membuat uang beredar berlebihan. "Apakah ini akan mendorong likuiditas berlebihan? Hitungan kita tidak, karena kami itu selalu menghitung berapa sih uang yang beredar di masyarakat yang seharusnya terjadi," ujarnya.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Yanti Sri Meyyanti mengatakan pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 mencapai 13,26 persen secara tahunan, sedangkan pertumbuhan DPK hanya 8,22 persen. Menurut dia, pelonggaran likuiditas tetap dibarengi pengaturan agar penyaluran kredit sesuai arah yang diharapkan.
Yanti mengatakan sektor pertanian, industri, dan hilirisasi telah hampir sepenuhnya memanfaatkan insentif KLM, sehingga BI akan mengevaluasi dan membuka ruang bagi sektor lain yang mendukung penciptaan lapangan kerja. Skema KLM berorientasi ke depan: bank menyampaikan komitmen penyaluran kredit, lalu realisasinya dicek di akhir periode.
Di sisi lain, BI menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (Deposit Facility) sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, sementara suku bunga acuan BI (BI-Rate) dipertahankan 5,75 persen. Firman menyebut kebijakan ini tidak bertentangan dengan penurunan GWM karena kenaikan fasilitas simpanan dimaksudkan membuat koridor suku bunga pasar uang kembali simetris terhadap suku bunga acuan BI.
BI menilai likuiditas perbankan secara keseluruhan masih memadai, dengan persoalan utama pada distribusi likuiditas yang belum merata antarbank. Tambahan likuiditas dari GWM diharapkan membantu memperbaiki distribusi tersebut dan memperkuat transmisi kebijakan moneter hingga ke perekonomian.