
Menteri PKP Buka Akses Data Pengadaan kepada LKPP
7 menit yang lalu
BI menyebut tekanan nilai tukar masih terkendali dan menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas pasar.
Terbit · 2 min read

Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan rupiah setelah pengumuman usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih dapat dikelola. Menurut laporan ANTARA, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan penilaian itu di Jakarta pada Jumat (23/10/2026).
MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar mandiri pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat. Pada Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 11,57 persen, sedangkan rupiah berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate berada di level Rp18.052 per dolar AS.
Erwin mengatakan rupiah sempat melemah hingga di atas Rp18.000 setelah pengumuman tersebut, tetapi menurutnya pergerakannya tidak berlebihan. Ia berharap dampak pengumuman itu secara bertahap mulai diserap pelaku pasar.
BI mengamati arus keluar modal dari pasar saham, tetapi Erwin tidak mengungkapkan nilainya. Menurut Erwin, arus keluar juga terjadi pada instrumen Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
Untuk merespons kondisi pasar, BI memastikan likuiditas rupiah tetap memadai agar transaksi di pasar keuangan dapat berlangsung. Erwin mengatakan BI dapat melakukan intervensi jika tekanan arus keluar merambat ke nilai tukar dan memicu volatilitas di luar batas toleransi, terutama ketika permintaan dan penawaran valuta asing tidak bertemu.
Dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen dan suku bunga fasilitas pinjaman di 6,5 persen. Suku bunga fasilitas simpanan naik 25 basis poin menjadi 5 persen.
BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Pengurangan premi lindung nilai ditetapkan 40 persen untuk tenor enam bulan, dari sebelumnya 25 persen, serta 45 persen untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 30 persen.
Pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, Rabu (21/10/2026), Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral mewaspadai risiko di pasar saham domestik, termasuk potensi arus keluar dana asing. Menurut laporan ANTARA, Destry menyebut BI telah menilai risiko terkait pengumuman MSCI dan memandang tekanan terhadap rupiah masih dalam batas yang cukup normal, sementara kondisi regional juga kurang baik.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.