
SpaceX dan Tesla Bahas Peluang Merger
12 menit yang lalu
Prospek global diperkirakan membaik, tetapi pemerintah menilai investasi dan produktivitas perlu diperkuat untuk mencapai target pertumbuhan.
Terbit · 2 min read

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan ekonomi pada 2027 meski prospek global diperkirakan membaik. Menurut laporan CNBC Indonesia, ia menyampaikan hal itu dalam pidato utama di Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (22/10/2026). Laporan itu menyebut pertumbuhan ekonomi global pada 2027 diproyeksikan 3,1 persen, perdagangan dunia sekitar 3,3 persen, dan inflasi global 3,7 persen.
Dradjad menyoroti risiko geopolitik, proteksionisme, dan gejolak pasar keuangan. Ia mengatakan Indonesia perlu memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus memanfaatkan peluang dari perubahan kondisi global.
Ia menyebut indeks manajer pembelian manufaktur naik menjadi 52,4 setelah sebelumnya berada di bawah 50. Menurut Dradjad, angka di atas 50 menunjukkan ekspansi dan manufaktur berperan penting bagi pertumbuhan.
Laporan CNBC Indonesia mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, sedangkan inflasi pada September tercatat 3,28 persen. Realisasi investasi selama Januari-September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, tumbuh 7,3 persen secara tahunan.
Dradjad juga menyebut tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen dan rasio Gini 0,368. Ia menilai stabilitas ekonomi perlu dimanfaatkan untuk memperluas pembiayaan produktif dan menjaga kepercayaan investor.
Pada Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 13,65 persen dan dana pihak ketiga meningkat 10,94 persen. Rasio kecukupan modal tercatat 24,10 persen, sementara rasio kredit bermasalah sebesar 2,11 persen, menurut laporan yang sama.
Pemerintah, kata Dradjad, juga mengandalkan program sosial dan hilirisasi untuk menopang kegiatan ekonomi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat mencapai Rp250,43 triliun dan bantuan sosial terealisasi Rp115,8 triliun; sebanyak 26 proyek hilirisasi senilai Rp225 triliun diproyeksikan menciptakan sekitar 37.833 lapangan kerja.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 dan 8 persen dalam jangka menengah. Dradjad mengatakan pencapaian sasaran itu memerlukan investasi yang tumbuh lebih cepat daripada produk domestik bruto, peningkatan produktivitas, serta ekspor produk bernilai tambah dengan dukungan logistik yang efisien.
Untuk mendorong investasi, pemerintah memperkuat kepastian berusaha melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, penyederhanaan perizinan berbasis risiko, kepastian waktu layanan, dan koordinasi lintas kementerian serta lembaga. Dradjad menilai kepastian regulasi dan akuntabilitas penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.