
Mentrans: Usaha Transmigrasi Harus Berorientasi Pasar
12 menit yang lalu
Harga batu bara menguat tipis sepekan terakhir di tengah dukungan permintaan Asia dan kendala pasokan.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia Research, harga batu bara Newcastle naik selama empat pekan berturut-turut hingga penutupan Jumat (23/10/2026), meski kenaikan pada pekan terakhir melambat. Kebutuhan energi di Asia dan ketidakpastian pasokan menopang harga.
Kontrak NCFMc2 ditutup pada US$155 per ton, naik US$0,40 atau 0,26 persen dibandingkan akhir pekan sebelumnya, ketika harga berada di US$154,60. Pada pekan sebelumnya, harga naik 2,72 persen.
Harga sempat ditutup pada US$156,05 pada Senin, lalu turun ke US$152,50 pada Rabu sebelum pulih dalam dua sesi perdagangan terakhir. Laporan CNBC Indonesia menyebut pembelian muncul saat harga melemah, tetapi dorongan pasar belum cukup kuat untuk melampaui posisi awal pekan.
Reuters melaporkan 96 dari 191 pembangkit listrik di India memiliki persediaan batu bara kritis per 19 Oktober, cukup untuk menghasilkan listrik kurang dari tiga hari. Jumlah itu bertambah dari 60 pembangkit pada pertengahan September.
Laporan yang sama mengaitkan tingginya kebutuhan listrik dengan cuaca panas dan rendahnya curah hujan yang menekan produksi pembangkit hidro. Bloomberg melaporkan pemerintah India menangguhkan rencana kewajiban pencampuran batu bara impor karena harga internasional yang tinggi dan pelemahan rupee meningkatkan biaya pembelian.
Pemerintah India memilih mendorong produksi Coal India dan mempercepat pengiriman lewat kereta. Pada 22 Oktober, pejabat Kementerian Ketenagalistrikan India menyebut pasokan ke pembangkit mencapai rekor 2,6 juta ton per hari dan memperkirakan keadaan segera normal.
Fitch Ratings, dalam laporan tertanggal 19 Oktober, menyoroti peralihan dari gas ke batu bara di Jepang dan Korea Selatan akibat gangguan pasar energi Timur Tengah. Pengisian persediaan menjelang musim dingin diperkirakan turut menopang permintaan, terutama untuk batu bara berkalori tinggi.
Di Indonesia, ketidakpastian kuota produksi dan kebijakan ekspor serta kekeringan yang menurunkan permukaan Sungai Barito membatasi pengangkutan dengan tongkang. Laporan APBI yang dikutip CNBC Indonesia menyebut ekspor batu bara Indonesia melalui laut pada September turun 18,1 persen secara tahunan; pemulihan produksi tambang China setelah pemeriksaan keselamatan berpotensi menambah pasokan dan membatasi kenaikan harga.