
Kebakaran Meluas di Sejumlah Gunung Indonesia
10 menit yang lalu
Harga emas dunia ditutup di bawah US$4.000 per troy ons, tertekan kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi di AS.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, harga emas dunia ditutup melemah 0,71 persen ke posisi US$3.995,52 per troy ons pada perdagangan Jumat (23/10/2026), sehingga kembali menembus ke bawah level psikologis US$4.000.
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip media itu, posisi tersebut menjadi yang terendah sejak 20 Juli 2026 atau dalam tiga bulan terakhir. Emas telah melemah dua hari perdagangan beruntun setelah sehari sebelumnya anjlok 2,81 persen.
Secara mingguan, harga emas dunia turun 4,07 persen sepanjang pekan ini dan memperpanjang pelemahan mingguan menjadi dua pekan berturut-turut. Menurut laporan yang sama, penurunan itu menjadi yang terdalam sejak Juni 2026 atau sekitar empat bulan terakhir.
Tekanan terhadap emas dikaitkan dengan konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertingginya dalam lebih dari lima bulan pada Jumat (23/10/2026), setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Menurut analisis dalam laporan itu, lonjakan harga minyak berpotensi membuat biaya energi, transportasi, dan produksi barang lebih mahal sehingga tekanan inflasi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut membuat bank sentral AS, The Federal Reserve, berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi, sementara emas yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga menjadi kurang menarik.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, seperti dikutip dari Reuters, menyebut meningkatnya kekhawatiran inflasi membuat bank sentral utama dunia tidak bisa melonggarkan kebijakan moneter secepat yang diinginkan. Ekonom Capital Economics, Hamad Hussain, menilai kenaikan harga minyak dapat membuat suku bunga riil tetap tinggi lebih lama dan mengurangi daya tarik relatif emas.
Menurut laporan CNBC Indonesia, data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pada pekan sebelumnya lebih tinggi dari perkiraan pasar. Berdasarkan perangkat CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang 92 persen The Fed menahan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026, sedangkan peluang kenaikan pada pertemuan Desember mencapai 78 persen.
Mengutip laporan Kitco, media itu menyebut pengajuan awal tunjangan pengangguran AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober 2026 turun menjadi 194.000, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 200.000. Angka itu terendah sejak akhir Juli 2026 dan dinilai memberi The Fed ruang lebih besar untuk memprioritaskan pengendalian inflasi.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.