
IHSG Menguat 1,14% pada Sesi Pertama
13 menit yang lalu
Brent dan WTI melemah tipis setelah kekhawatiran pasokan mendorong kenaikan harga minyak.
Terbit · 1 min read

Harga minyak mentah dunia bergerak tipis pada Jumat (23/10/2026), setelah melonjak 4 persen pada perdagangan sebelumnya. Menurut laporan CNNIndonesia.com yang mengutip Reuters, kekhawatiran gangguan pasokan energi menyusul serangan Houthi terhadap Arab Saudi ikut mendorong kenaikan itu.
Pada pukul 00.30 GMT, harga Brent turun 21 sen atau 0,2 persen menjadi US$112,96 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 27 sen atau 0,3 persen menjadi US$98,12 per barel.
Pada Kamis (22/10/2026), Brent ditutup di level tertinggi sejak 4 Mei dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut. Sebaliknya, WTI berada di jalur untuk mengakhiri kenaikan selama dua pekan dengan penurunan mingguan.
Menurut laporan Reuters yang dikutip CNNIndonesia.com, kekhawatiran pasokan meningkat setelah Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran pada Kamis (22/10/2026). Reuters melaporkan langkah itu terjadi saat pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman semakin intensif.
Konflik tersebut berlangsung ketika Houthi bergerak menuju Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di mulut Laut Merah yang penting bagi perdagangan maritim global. Koalisi pimpinan Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Gangguan pasokan juga dilaporkan terjadi di Libya. Kepala National Oil Corporation Libya mengatakan kepada Reuters pada Kamis (22/10/2026) bahwa penutupan katup pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara dengan pelabuhan Zawiya menyebabkan produksi dari kedua ladang itu menurun.
Laporan yang sama menyebut Rusia menyatakan pada Rabu (21/10/2026) siap melanjutkan pembicaraan dengan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat pada bulan berikutnya. Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga pada 2025, setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi, berdasarkan data energi AS; sanksi terkait invasi ke Ukraina pada 2022 turut mendorong kenaikan harga, menurut laporan tersebut.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.