
Brasil Teratas, Indonesia Kelima dalam Frekuensi Mandi
15 menit yang lalu
Josua Pardede menilai insentif bagi sektor padat karya dapat membantu menjaga pendapatan kelas menengah.
Terbit · 1 min read

Kepala Ekonom PT Permata Bank Tbk Josua Pardede meminta pemerintah memprioritaskan insentif bagi sektor usaha padat karya untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah. Menurut laporan CNNIndonesia, ia menyampaikan pandangan itu dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Dalam acara tersebut, Josua mengatakan pertumbuhan pendapatan riil masyarakat melambat setelah pandemi. Ia membandingkan pertumbuhan sebelum pandemi yang dapat melampaui 5 persen dengan pertumbuhan setelah pandemi yang berada di bawah 5 persen.
Josua menyebut pemerintah memiliki berbagai program, tetapi kondisi fiskal menuntut penentuan prioritas belanja yang berdampak besar bagi masyarakat. Ia juga menyoroti menyusutnya kelompok kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi yang dinilainya belum cukup kuat untuk menopang kenaikan pendapatan.
Menurut Josua, investasi semakin banyak mengalir ke sektor jasa dan padat modal yang tidak selalu menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, ia menilai dukungan pemerintah perlu diarahkan ke sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Josua mengatakan kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga pendapatan masyarakat kelas menengah agar tidak jatuh ke kelompok miskin. Ia juga berpandangan pemerintah perlu memperhatikan manfaat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat, bukan hanya mengejar angka pertumbuhan.
Dalam laporan yang sama, Josua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 berada di kisaran 5,2–5,3 persen, sedangkan inflasi diperkirakan sekitar 3 persen. Ia menilai prospek pertumbuhan masih relatif tangguh meski kondisi eksternal dan global belum sepenuhnya kondusif.
Josua memperkirakan BI Rate berada di kisaran 6 persen pada akhir 2027 dan menyebut Bank Indonesia mungkin kembali mengetatkan kebijakan moneter, bergantung pada inflasi, nilai tukar rupiah, dan biaya pembiayaan. Ia juga memperkirakan nilai fundamental rupiah berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026. Suku bunga fasilitas simpanan dipertahankan sebesar 5 persen dan fasilitas pinjaman sebesar 6,5 persen.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.