
Ubed Hadapi Popov di Final French Open 2026
12 menit yang lalu
Utang tinggi dan ketidakpastian politik menekan pasar obligasi, saham, dan mata uang di sejumlah negara Eropa.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, pasar keuangan Eropa tertekan oleh tingginya utang pemerintah, kenaikan biaya pendanaan, dan ketidakpastian politik. Gejolak sosial di Prancis menambah kekhawatiran investor ketika pemerintah berupaya memperbaiki kondisi keuangan negara.
Data Eurostat menunjukkan rasio utang pemerintah zona euro mencapai 88,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026, naik dari 88,4 persen pada kuartal sebelumnya. Prancis menjadi salah satu sorotan dengan rasio utang 119,1 persen terhadap PDB, naik 3,7 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,14 persen pada 22 Oktober 2026, tertinggi sejak Juli 2002, dan selisihnya terhadap obligasi Jerman melebar ke level tertinggi dalam 15 tahun.
Menurut laporan yang sama, pelebaran selisih itu menunjukkan investor meminta tambahan kompensasi untuk memegang utang Prancis. Kenaikan imbal hasil membuat penerbitan utang baru dan pembiayaan kembali utang jatuh tempo lebih mahal, sehingga berpotensi mempersempit ruang belanja pemerintah.
Situasi diperberat oleh demonstrasi pada 17 Oktober 2026 yang di sejumlah lokasi diwarnai kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran. Tekanan biaya hidup serta kekhawatiran terhadap layanan publik menambah tantangan pemerintah dalam menjalankan kebijakan anggaran.
Di tengah tekanan tersebut, delapan dari sembilan indeks saham yang dipantau masih menguat sejak akhir 2025 hingga Jumat (23/10/2026). AEX Belanda memimpin dengan kenaikan 18,96 persen, diikuti IBEX 35 Spanyol 9,72 persen dan SMI Swiss 9,01 persen, sedangkan CAC 40 Prancis turun 4,50 persen.
Menurut analisis dalam laporan itu, kenaikan biaya pendanaan dan ketidakpastian anggaran dapat membebani kepercayaan investor serta valuasi saham. Pelemahan CAC 40 sejak awal tahun mencakup berbagai perkembangan sepanjang 2026, dan kerusuhan Oktober menjadi tambahan tekanan terbaru. Moody's mempertahankan peringkat Prancis di Aa3 dengan prospek negatif pada 23 Oktober 2026.
Di pasar valuta asing, euro melemah 4,74 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun berjalan. Franc Swiss turun 3,84 persen dan poundsterling Inggris melemah 0,72 persen, sementara krone Norwegia menguat 7,79 persen dan zloty Polandia melemah 8,50 persen.
Franc Swiss masih menguat sekitar 0,94 persen terhadap euro sejak akhir 2025, sehingga lebih bertahan dibandingkan euro meski melemah terhadap dolar AS. Laporan itu menyebut tekanan fiskal Prancis dapat menjadi salah satu risiko bagi euro, tetapi pergerakan mata uang juga dipengaruhi kebijakan moneter dan kondisi ekonomi masing-masing negara.