
Liverpool vs Arsenal Tayang di SCTV 1 November
1 jam yang lalu
Konferensi di Shanghai membahas penguatan rantai pasok dan pemanfaatan teknologi untuk industri minyak nabati.
Terbit · 1 min read

Negara-negara produsen minyak sawit mendorong kerja sama dengan China dan pemanfaatan teknologi digital serta kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi produksi. Menurut laporan ANTARA, dorongan itu disampaikan dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan keempat.
Konferensi tersebut digelar di Shanghai baru-baru ini dan diselenggarakan Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (CPOPC). Acara bertema “Sinergi Keberlanjutan dan Rantai Nilai yang Tangguh” itu diikuti sekitar 220 peserta dari 11 negara.
Laporan yang sama menyebut forum tersebut bertujuan memperkuat kerja sama strategis di industri minyak nabati global. Dalam konferensi, Izzana menyampaikan bahwa meningkatnya permintaan minyak nabati mendorong CPOPC mencari cara untuk meningkatkan produktivitas dengan penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab dan menjaga keberlanjutan rantai pasok.
Menurut Izzana, negara anggota CPOPC memasok 89 persen minyak sawit dunia. Industri tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan pengusaha dan petani kecil di negara-negara produsen.
Minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak diimpor China. Pasokan utamanya berasal dari negara anggota CPOPC, termasuk Indonesia.
Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyebut penyelenggaraan konferensi mencerminkan eratnya hubungan bilateral Indonesia dan China serta komitmen untuk memperkuat kerja sama. Menurutnya, kemitraan itu dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi berkelanjutan, dan membangun rantai pasok global yang inklusif serta tangguh.
Konsul Jenderal Indonesia di Shanghai Berlianto Situngkir menyoroti posisi China sebagai mitra dagang terbesar bagi negara-negara anggota CPOPC. Ia juga menyampaikan peran Shanghai dalam mendorong produktivitas, inovasi, dan nilai tambah industri.
Pembahasan konferensi mencakup dampak transisi kebijakan hijau terhadap industri sawit, penerapan teknologi dalam produksi minyak nabati, peningkatan kapasitas petani kecil, serta pengembangan bahan bakar hayati untuk mendukung pertumbuhan ekonomi rendah karbon.