
Sekitar 45.000 Warga Korea Selatan Memeluk Islam
11 menit yang lalu
Rupiah melemah saat harga minyak global naik; obligasi pemerintah bergerak beragam.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026) menjadi Rp18.074 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai lonjakan harga minyak global memengaruhi pelemahan tersebut.
Kurs itu naik 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.060 per dolar AS.
Josua mengatakan harga minyak melonjak setelah kelompok Houthi atau Ansarullah Yaman mengumumkan rencana menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam. Pernyataan itu disampaikan Josua kepada ANTARA di Jakarta pada Jumat.
Mengutip Anadolu, harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Kamis (22/10/2026), setelah serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Brent diperdagangkan pada 111,40 dolar AS per barel, naik 2,4 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.
Laporan yang sama menyebut serangan yang menewaskan dua orang kembali memicu kekhawatiran tentang keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah. Perintah Amerika Serikat agar sebagian personel dan keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik di Arab Saudi turut menambah kekhawatiran terhadap ketegangan regional.
Menurut laporan Xinhua, Ansarullah Yaman melancarkan empat serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Arab Saudi dalam kurun 48 jam. Juru Bicara Militer Ansarullah Yahya Sarea mengklaim sasaran di Riyadh, Dammam, Yanbu, dan Abha terkena langsung; laporan itu menyebut gangguan lalu lintas udara serta kebakaran di fasilitas minyak.
Josua juga melaporkan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah yang beragam pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Imbal hasil tenor lima, 10, 15, dan 20 tahun masing-masing berada di 7,25 persen, 7,42 persen, 7,38 persen, dan 7,41 persen, dengan perubahan yang dilaporkan berturut-turut naik 41 basis poin, turun satu basis poin, turun empat basis poin, dan naik satu basis poin.
Volume perdagangan obligasi pemerintah turun menjadi Rp18,28 triliun dari Rp24,39 triliun pada sesi sebelumnya. Kepemilikan asing berkurang Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun per Rabu (21/10/2026), setara 13,02 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.