
Ferdinand Dumais Terima Penghargaan PWI
10 menit yang lalu
Larangan menangkap ikan dan usaha baru mengubah mata pencaharian warga Desa Changjiang.
Terbit · 1 min read

Desa Changjiang di Kota Linxiang, Provinsi Hunan, China, mengembangkan pertanian ramah lingkungan dan agrowisata setelah warganya beralih dari penangkapan ikan di Sungai Yangtze. Menurut laporan China Daily yang disalurkan melalui ANTARA/PRNewswire, perubahan itu berjalan seiring upaya pemulihan ekosistem sungai.
Pada awal 2000-an, populasi ikan di sungai itu merosot tajam. Desa yang berada di tepi Sungai Yangtze tersebut dahulu memiliki banyak warga yang menggantungkan hidup dari menangkap ikan.
Penangkapan ikan yang tidak terkendali merusak ekosistem sungai, sementara populasi ikan merosot tajam pada awal 2000-an. Kondisi sungai berangsur pulih setelah upaya warga dan kebijakan larangan menangkap ikan.
Song Yinzhong, Sekretaris Partai Desa Changjiang dan mantan nelayan paruh waktu, beralih membudidayakan stroberi di rumah kaca bersama istrinya. Mereka juga mengembangkan agrowisata sebagai sumber pendapatan baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah desa mendorong warga mengembangkan pertanian ramah lingkungan dan budi daya perairan. Lebih dari 133 hektare lahan ditanami kanola, sementara desa mengadakan pertunjukan seni tradisional, pasar pedesaan, dan jamuan makan untuk menarik wisatawan.
Warga kemudian memanfaatkan kedatangan pengunjung dengan membuka penginapan dan menjual produk khas daerah. Xiang Cuiyang, warga pertama yang membuka penginapan di desa itu, menyebut wisatawan dan pemandu wisata terus menghubungi usahanya setiap tahun setelah Festival Bunga Kanola pertama menarik pengunjung.
Laporan itu juga menyebut video pendek di media sosial turut meningkatkan popularitas desa dan menarik wisatawan dari berbagai wilayah di China. Desa yang dahulu kerap dilanda banjir dan mengalami penurunan sumber daya alam itu kini memiliki jalan beraspal, rumah-rumah yang tertata, serta lahan kanola yang menjadi daya tarik.