
Malaysia Terbaik di Antara Negara ASEAN
35 menit yang lalu
Pembengkakan sendi yang menetap berujung pada diagnosis JIA; kondisi anak itu kini remisi.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNNIndonesia yang mengutip People, Emily Hughes mencari pendapat medis lain setelah lutut putrinya membengkak. Anak itu kemudian didiagnosis mengalami artritis idiopatik juvenil (JIA), penyakit peradangan sendi yang dapat dialami anak-anak.
Pembengkakan mulai terlihat pada akhir 2023, ketika putrinya berusia 18 bulan dan tinggal di Australia. Emily semula mengira kondisi itu berkaitan dengan aktivitas bermain, sementara anaknya tampak sehat dan berenergi.
Pembengkakan tidak hilang hingga Januari. Emily dan pasangannya membawa anak itu ke ahli osteopati; saat diperiksa, anak tersebut juga kesulitan meluruskan salah satu siku, meski tidak tampak kesakitan.
Pemeriksaan awal belum memberi jawaban yang jelas. Emily mengatakan seorang dokter menyebut tidak ada masalah, sedangkan dokter keluarga menilai hasil darah tampak baik meski beberapa indikator sedikit meningkat.
Pada Februari, lutut anak itu semakin bengkak, terasa panas dan nyeri hingga ia tidak mau menumpu berat badan. Keluarga membawanya ke Royal Children's Hospital di Melbourne, tempat dokter awalnya mencurigai artritis septik dan melakukan prosedur untuk membersihkan sendi yang terdampak.
Pemeriksaan oleh spesialis penyakit infeksi dan ortopedi selama beberapa bulan belum menemukan penyebabnya; pemeriksaan juga menunjukkan fusi pada sendi siku. Pada Mei, dokter menilai gejalanya mengarah pada JIA yang melibatkan tiga sendi.
Emily mengatakan diagnosis tersebut terasa melegakan sekaligus menakutkan. Ia juga khawatir tentang uveitis, peradangan mata yang menurut laporan dapat dialami sekitar 10–20 persen anak dengan JIA.
Dengan perawatan dan rencana pengobatan dari tim medis, kondisi anak itu berangsur membaik dan kini berada dalam remisi. Emily juga mengenang bahwa kekhawatirannya tidak selalu ditanggapi dengan serius oleh tenaga medis; menurut Mayo Clinic, JIA adalah artritis pada anak di bawah usia 16 tahun yang penyebabnya belum diketahui.