
Real Madrid Kalahkan Valencia 3-0
24 menit yang lalu
Trump menyebut AS mengendalikan Selat Hormuz dan mengakui adanya serangan terbatas di sekitar Pulau Qeshm.
Terbit · 1 min read

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya dapat menjadi penguasa di Iran karena, menurut dia, AS mengendalikan Selat Hormuz dan mengambil minyak dalam jumlah rekor dari jalur itu. Menurut laporan CNN Indonesia, Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada awak media setelah berpidato di fasilitas NASA di Florida.
Pernyataan itu disampaikan pada Jumat (6/11/2026). Dalam kesempatan yang sama, Trump membandingkan pertempuran dengan Iran yang disebutnya memasuki bulan kesembilan dengan konflik Rusia-Ukraina.
Trump mengatakan konflik Rusia-Ukraina menewaskan 25 ribu orang sepanjang Oktober 2026. Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip Anadolu Agency, ia menggunakan perbandingan itu untuk menyatakan bahwa konflik tersebut yang layak disebut perang.
Trump berpendapat ketegangan dengan Iran tidak dapat disebut perang berskala penuh karena, menurutnya, tidak ada personel AS yang terluka dalam beberapa bulan terakhir. Ia juga mengeklaim AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, rute penting bagi pasokan energi global.
Saat ditanya mengenai laporan serangan pasukan AS di sekitar Pulau Qeshm pada Jumat, Trump membenarkan adanya operasi militer terbatas. Ia menolak menjelaskan secara terperinci dan menyebut serangan yang dilakukan berskala kecil.
Trump juga mengatakan pasukan Iran sempat membangun instalasi pertahanan antipesawat, tetapi militer AS menghancurkannya dalam hitungan menit. Beberapa hari sebelumnya, ia membenarkan serangan AS terhadap fasilitas pertahanan udara di Pulau Qeshm dan menyebutnya operasi skala kecil, bukan kembali ke perang terbuka.
Pemerintah Iran menolak klaim AS tentang penguasaan Selat Hormuz. Teheran menyatakan tetap memegang kendali strategis atas jalur tersebut dan tidak akan membukanya kembali sebelum persyaratannya dipenuhi.
Laporan CNN Indonesia menyebut konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata tercapai pada April 2026, disusul nota kesepahaman pada Juni untuk mengupayakan perdamaian, tetapi negosiasi belum menghasilkan kesepakatan final.