
Tito Dorong Pembentukan Satgas MBG di Daerah
13 menit yang lalu
UNRWA melaporkan pengungsian warga, pembatasan mobilitas, dan penyaluran bantuan di Hebron.
Terbit · 1 min read

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan keprihatinan atas situasi keamanan di Hebron, Tepi Barat. Menurut laporan ANTARA, pernyataan itu disampaikan pada Selasa (27/10/2026) oleh Roland Friedrich, Direktur UNRWA untuk Tepi Barat.
Friedrich mengatakan warga Hebron telah hidup dalam kondisi keamanan yang melumpuhkan selama hampir sepekan sejak 23 Oktober 2026. Ia menyampaikan hal itu melalui platform X.
Menurut Friedrich, lebih dari 3.000 warga Palestina dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah dalam operasi pasukan keamanan Israel. Ia mengatakan pasukan tersebut juga menghancurkan rumah-rumah dan properti pribadi secara luas.
Friedrich menyebut penutupan hampir total di sebagian besar wilayah Hebron membatasi kebebasan bergerak warga serta akses mereka terhadap layanan penting.
Ia mengatakan perkembangan tersebut mengingatkan pada pengungsian di wilayah utara Tepi Barat pada awal 2025. Menurutnya, lebih dari 34.000 pengungsi Palestina dari kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams masih terusir dari kamp-kamp tersebut lebih dari setahun kemudian.
Friedrich menyatakan hukuman kolektif bertentangan dengan hukum internasional. Ia juga menekankan bahwa warga yang dipaksa mengungsi harus dapat kembali dengan tetap dihormati martabat dan hak-haknya, serta akses mereka terhadap layanan esensial harus tetap terlindungi.
Menurut laporan yang sama, UNRWA bekerja sama dengan mitra kemanusiaan dan Otoritas Palestina untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Hebron dalam merespons kebutuhan mendesak.
Koordinasi tersebut mencakup penyaluran bantuan, antara lain selimut, kasur, dan bantal bagi keluarga terdampak.