
Patrice Evra Ingin Lebih Sering ke Indonesia
14 menit yang lalu
Penelitian mencatat pemanfaatan tradisional mangrove, tetapi khasiat medisnya masih perlu diuji lebih lanjut.
Terbit · 1 min read

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alin Fithor, menyampaikan bahwa sembilan jenis tumbuhan mangrove dari Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, berpotensi sebagai tanaman obat. Menurut laporan ANTARA, temuan itu mencakup tujuh jenis mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove.
Penelitian tersebut dipublikasikan pada Maret 2026 dalam Biodiversitas Journal of Biological Diversity volume 27 nomor 3. Laporan itu tidak menyebutkan kapan penelitian lapangan dilakukan.
Tujuh jenis mangrove sejati yang disebut Alin ialah Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove adalah Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans.
Menurut laporan yang sama, masyarakat setempat telah lama memanfaatkan tumbuhan dari hutan mangrove, terutama daun dan buahnya, untuk membantu menjaga kesehatan. Pemanfaatan tradisional itu disebut mencakup keluhan seperti memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka kulit, sakit perut, sariawan, dan sakit gigi.
Alin menyebut Rhizophora apiculata atau bakau dimanfaatkan untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka. Rhizophora mucronata digunakan masyarakat untuk diare, sakit perut, dan luka pada kulit.
Peneliti mencatat kandungan senyawa bioaktif, antara lain alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Senyawa-senyawa itu disebut berpotensi memiliki aktivitas antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus.
Alin menegaskan bahwa pemanfaatan tradisional berbeda dari khasiat medis yang telah terbukti secara ilmiah. Potensi mangrove sebagai bahan obat masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas farmakologisnya.
Alin juga menyoroti penebangan dan pembangunan kawasan pesisir sebagai ancaman yang dapat menghilangkan habitat serta mengganggu keberlangsungan ekosistem mangrove. Tim peneliti dalam publikasi itu terdiri atas Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.