
PSIM Yogyakarta Raih Kemenangan Perdana
13 menit yang lalu
Kesenangan dari horor bergantung pada intensitas rasa takut dan pilihan pribadi.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNNIndonesia.com, penelitian tentang pengalaman di rumah hantu menemukan bahwa hubungan antara rasa takut dan kesenangan menyerupai kurva U terbalik. Rasa takut dapat terasa menyenangkan jika intensitasnya masih berada pada tingkat yang bisa dinikmati.
Penelitian tentang bermain dengan rasa takut dalam horor rekreasional diterbitkan dalam jurnal Psychological Science. Peserta menjelajahi rumah hantu sambil mengenakan alat pemantau detak jantung; peneliti juga mengukur rasa takut dan kesenangan yang mereka laporkan saat menghadapi kejutan.
Hasil penelitian menunjukkan kesenangan cenderung meningkat seiring bertambahnya rasa takut sampai titik tertentu. Ketika ketakutan terlalu tinggi, kesenangan menurun; sebaliknya, rasa takut yang terlalu rendah dapat membuat pengalaman terasa membosankan.
Perubahan detak jantung yang lebih besar berkaitan dengan tingkat ketakutan peserta. Sementara itu, pola perubahan dalam skala lebih kecil berkaitan dengan kesenangan, menurut laporan yang sama.
Sebanyak 56,5 persen peserta mengatakan datang ke rumah hantu atas kemauan sendiri, sedangkan 43,5 persen lainnya datang karena ajakan teman, rekan kerja, atau keluarga. Rata-rata kesenangan yang mereka laporkan adalah 6,95 dari skala sembilan, sementara nilai rata-rata ketakutan adalah 5,71 dari skala sembilan.
Peserta yang datang atas kemauan sendiri melaporkan kesenangan lebih tinggi daripada peserta yang datang karena dorongan orang lain. Temuan ini menunjukkan pilihan pribadi dapat berhubungan dengan cara seseorang menikmati pengalaman menakutkan.
Laporan CNNIndonesia.com juga merujuk rangkuman penelitian terdahulu dalam jurnal bidang psikologi Frontiers. Salah satu konsep yang dibahas ialah kecenderungan mencari sensasi, yaitu mencari pengalaman baru, kompleks, dan intens.
Namun, kesukaan terhadap horor tidak hanya berkaitan dengan kecenderungan mencari sensasi. Sensitivitas terhadap rasa takut, kecemasan, empati, serta jenis adegan dapat memengaruhi respons; menyukai film horor tidak berarti seseorang menikmati semua bentuk ketakutan atau memiliki kepribadian tertentu.