
BP BUMN dan Danantara Bidik Ekosistem Tekstil
19 menit yang lalu
Penjajakan mencakup bahan baku, prototipe, pengujian, dan peluang kerja sama dengan pelaku usaha lokal.
Terbit · 2 min read

BRIN dan BRIDA Kabupaten Buleleng menjajaki pengembangan genteng biomassa berbahan serat alam dengan melibatkan pelaku usaha lokal, menurut laporan ANTARA. Laporan tersebut terbit Jumat (6/11/2026), tetapi tidak merinci tanggal kegiatan penjajakan.
Penjajakan berlangsung di Kabupaten Buleleng, Bali. Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng Ketut Suwarmawan mengatakan pemanfaatan hasil riset perlu meningkatkan nilai tambah sumber daya daerah, termasuk sabut kelapa, bambu, serta limbah pertanian dan perkebunan.
Suwarmawan mendorong kolaborasi pemerintah daerah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Menurut dia, pemanfaatan bahan lokal dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi, mengurangi limbah, dan membuka peluang usaha.
Dalam rangkaian penjajakan, rombongan mengunjungi Rumah Plastik Mandiri, yang didirikan Putu Eka Darmawan, untuk melihat pengelolaan sampah, edukasi daur ulang, dan teknologi pengolahan limbah plastik.
Suwarmawan juga mengajak BRIN mengunjungi PT Balisynwood, yang mengembangkan kayu sintetik dari limbah pertanian, terutama jerami dan sekam padi. Rombongan melihat pengembangan material alternatif bersama Direktur Operasional Gede Wikrama Putra Setya Adiyana.
“Pertemuan dan kunjungan lapangan tersebut membuka komunikasi awal mengenai peluang kolaborasi riset, karakterisasi bahan baku, pengembangan prototipe, pemanfaatan fasilitas pengujian, serta hilirisasi bersama calon mitra usaha,” kata Suwarmawan. Penjajakan diharapkan berlanjut dengan identifikasi bahan baku, penyusunan formulasi, dan pengujian kelayakan produk.
Tim BRIN yang terdiri atas Jajang Sutiawan, Yeyen Nurhamiyah, dan Mulya Supianto memperkenalkan HERBAL-ROOF atau Genteng Biomassa Indonesia, yang menggunakan serat alam sebagai bahan komposit atap. Menurut paparan tim BRIN dalam laporan ANTARA, teknologi tersebut telah mencapai prototipe skala penuh, memenuhi standar SNI, dan siap memasuki produksi percontohan.
Bahan baku teknologi itu dapat berupa sabut kelapa, bambu, tandan kosong kelapa sawit, dan biomassa lainnya. Tim memaparkan bahwa genteng tersebut lebih ringan, dapat meredam panas, dan efisien dalam penggunaan material; bobotnya berpotensi mengurangi beban struktur atap, termasuk di wilayah rawan gempa.
Diskusi turut membahas ketersediaan dan karakteristik sabut kelapa di Buleleng, pengolahan dan formulasi material, serta kebutuhan pengujian mekanis, penyerapan air, ketahanan cuaca dan api, stabilitas dimensi, kelayakan ekonomi, dan dampak lingkungan. Hasil pengujian dan identifikasi bahan baku menjadi bagian dari tindak lanjut yang diharapkan dalam penjajakan tersebut.