
MilkLife Kickers Juara Kedua Singa Cup 2026
17 menit yang lalu
AGI memperkirakan produksi gula meningkat berkat rendemen, perluasan areal tebu, dan produktivitas.
Terbit · 1 min read

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) memproyeksikan produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 mencapai sedikitnya 2,8 juta ton, yang menjadi salah satu capaian terbaik dalam sekitar satu dekade terakhir. Menurut laporan ANTARA, Sekretaris Jenderal AGI Dwi Purnomo menyampaikan proyeksi itu dalam keterangannya di Jakarta.
Menjelang akhir musim giling 2026, produksi nasional disebut berada pada kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton. Angka tersebut diperkirakan menembus 2,8 juta ton setelah seluruh pabrik menyelesaikan musim giling.
Dwi menilai kinerja produksi tahun ini cukup baik dan mengaitkannya dengan kebijakan yang mendorong performa operasional dari sisi teknis. AGI juga mengapresiasi kebijakan Kementerian Pertanian yang dinilai mendukung peningkatan produksi.
Menurut laporan yang sama, faktor pendukung peningkatan produksi mencakup program bongkar ratun dan bertambahnya luas areal tebu. Cuaca yang lebih kering akibat El Nino disebut meningkatkan rendemen atau kandungan gula dalam tebu.
Dwi mengakui cuaca kering menurunkan bobot tebu. Namun, produksi nasional tetap meningkat karena luas areal tebu bertambah.
AGI menilai kondisi industri gula tahun ini cukup kondusif karena produksi meningkat dan harga gula serta tetes tebu berada pada tingkat yang menguntungkan petani maupun pabrik. Harga lelang gula disebut telah melampaui Rp17.000 per kilogram, sementara harga acuan pembelian di tingkat produsen sebesar Rp14.500 per kilogram.
Dwi berharap kondisi tersebut mendorong kenaikan pendapatan petani dan pabrik serta perluasan areal tanam pada musim berikutnya. AGI juga menilai program bongkar ratun perlu dilanjutkan untuk memperkuat upaya mencapai swasembada gula.
AGI menyebut tantangan berikutnya mencakup target swasembada gula konsumsi dan industri serta pengembangan bioetanol, termasuk penerapan pencampuran etanol dari E5 menuju E20. Dwi meminta iklim usaha yang kondusif dipertahankan agar stabilitas industri dan kepastian bagi petani tetap terjaga.