
OJK Dorong Pembiayaan UMKM dan Petani Sulutgo
13 menit yang lalu
Konsumsi pemerintah dan rumah tangga menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga 2026.
Terbit · 1 min read

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen dan menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga 2026, menurut laporan ANTARA.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026), Airlangga mengatakan belanja pemerintah ditingkatkan pada triwulan kedua dan ketiga. Belanja itu menjadi bagian dari konsumsi melalui program pemerintah, termasuk MBG dan KDKMP.
Pertumbuhan konsumsi pemerintah tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat 5,66 persen. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,04 persen.
Konsumsi rumah tangga menyumbang 51,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Menurut laporan yang sama, ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada triwulan ketiga 2026, naik dari 5,29 persen pada triwulan kedua 2026.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tumbuh 5,87 persen dan berkontribusi 19,22 persen terhadap PDB. Subsektor makanan dan minuman tumbuh 7,09 persen, kimia dan farmasi 8,10 persen, logam dasar 9,94 persen, serta alat angkutan dan otomotif 6,14 persen.
Airlangga menyebut proyek prioritas pemerintah turut mendorong sektor konstruksi, yang tumbuh 6,42 persen. Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dan Sekolah Rakyat termasuk kegiatan yang mendukung pertumbuhan sektor tersebut.
Pemerintah memperkirakan momentum pertumbuhan tetap terjaga pada triwulan IV-2026. Salah satu indikator yang disebut Airlangga adalah indeks manajer pembelian manufaktur Indonesia pada Oktober 2026, yang mencapai 54,0, naik dari 52,4 pada September.
Menurut laporan yang sama, Airlangga mengatakan indeks tersebut menunjukkan industri berada dalam fase ekspansi dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2026. Ia juga menyebut Indeks Kepercayaan Industri sebesar 53,77, penjualan listrik meningkat 9,21 persen, dan Indeks Keyakinan Konsumen berada pada level optimistis 118,1.
Airlangga mencermati tekanan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah sebagai risiko bagi daya beli masyarakat. Ia mengatakan pemerintah akan melanjutkan kebijakan yang terarah meski masih ada tantangan yang perlu diselesaikan.