
GENTING Jangkau 1,3 Juta Keluarga Berisiko Stunting
15 menit yang lalu
Heldy Satrya Putera menyebut ESG memengaruhi akses pembiayaan dan menjadi perhatian dalam tuntutan pasar global.
Terbit · 1 min read

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) memengaruhi akses pembiayaan proyek. Menurut laporan ANTARA, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM Heldy Satrya Putera menyampaikan hal itu di sela Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026 di Jakarta.
Heldy mengatakan tata kelola yang baik telah menjadi faktor penting dalam penentuan akses pembiayaan. Laporan ANTARA menyebut pernyataan itu disampaikan ketika Heldy ditemui dalam acara tersebut, Kamis (5/11/2026).
Ia meminta pengelola proyek hilirisasi memperhatikan penerapan ESG dalam membangun tata kelola. Heldy juga berharap lembaga pembiayaan dan investor mempertimbangkan aspek tersebut saat menilai proyek.
Menurut Heldy, tren global mendorong produk dihasilkan melalui proses yang tidak merusak alam atau merugikan masyarakat di sekitar lokasi produksi. Tuntutan itu, katanya, mencakup hasil akhir sekaligus tata kelola dan proses produksi.
Ia berharap proyek-proyek di Indonesia menjaga lingkungan, mengelola pengambilan sumber daya alam agar tidak merusak alam, serta memperhatikan hak masyarakat di sekitar proyek. Heldy mengaitkan penerapan ESG dengan upaya memasuki pasar global.
Heldy mengatakan penerapan ESG dapat membutuhkan biaya operasional lebih tinggi dan berdampak pada harga produk. Namun, ia memperkirakan akan terbentuk keseimbangan baru antara harga dan konsumen yang mengutamakan penerapan ESG.
Menurut Heldy, penyesuaian harga dapat berlangsung seiring tuntutan pasar. Ia menyatakan konsumen dapat bersedia membeli produk yang mendukung kelestarian alam dan kesehatan.