
Alex Marquez Jalani Operasi Lengan Kanan
10 menit yang lalu
Restrukturisasi Canva berdampak pada 22 persen tenaga kerjanya dan menyatukan sejumlah tim produk.
Terbit · 1 min read

Canva menyatakan restrukturisasi bisnisnya akan berdampak pada 1.271 karyawan, atau 22 persen dari total tenaga kerja. Menurut laporan ANTARA, CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins, menyampaikan keputusan itu dalam memo kepada karyawan.
Pengumuman tersebut disampaikan pada Rabu (4/11/2026). Canva berbasis di Sydney, Australia, dan restrukturisasi itu juga akan menjadikan Sydney pusat utama bagi lebih banyak tim produk.
Perkins mengatakan sebagian karyawan akan mengalami perubahan posisi atau diminta pindah ke pusat-pusat yang tersentralisasi. Ia juga menyebut perubahan itu berarti berpisah dengan rekan kerja yang telah membantu membangun Canva.
Perusahaan akan menggabungkan tim produk, pertumbuhan, dan platform ke dalam satu organisasi produk. Laporan ANTARA menyebut restrukturisasi berlangsung di tengah perlambatan pertumbuhan perusahaan.
Pada Agustus, Canva menurunkan proyeksi pertumbuhan pendapatan 2026 dari 30 persen menjadi 20 persen. Laporan yang sama menyebut perusahaan juga menurunkan valuasi internalnya menjadi 43,9 miliar dolar Australia.
Memo Perkins tidak menyebut dampak kecerdasan buatan terhadap restrukturisasi tersebut. Namun, menurut laporan ANTARA yang mengutip Australian Broadcasting Corporation, perubahan itu akan mempersiapkan Canva untuk mengembangkan produk terkait kecerdasan buatan.
ANTARA mencantumkan kurs satu dolar Australia setara dengan Rp12.680 dalam laporannya.