
PSM Makassar Siap Beri Kejutan untuk Bhayangkara FC
12 menit yang lalu
Penulis opini di CNBC Indonesia menilai kebijakan energi perlu menautkan keterjangkauan dengan produktivitas industri.
Terbit · 1 min read

Dalam opini yang dimuat CNBC Indonesia, penulis opini menilai Indonesia perlu mengarahkan kebijakan energi tidak hanya pada harga terjangkau, tetapi juga pada kemampuan energi mendorong produktivitas, teknologi, dan kesejahteraan.
CNBC Indonesia memuat opini tersebut pada Senin (26/10/2026). Penulis membahas arah kebijakan energi Indonesia dan kaitannya dengan kebutuhan masyarakat, industri, serta pembangunan ekonomi.
Menurut penulis, energi murah belum cukup untuk membangun daya saing apabila pasokan tidak andal, kualitas listrik tidak sesuai, infrastruktur terbatas, atau kepastian regulasi belum mendukung investasi jangka panjang.
Penulis berpendapat nilai energi perlu dilihat dari manfaatnya bagi kegiatan produktif. Listrik, misalnya, memungkinkan industri mengoperasikan mesin, mengolah bahan baku, mengembangkan produk, dan menyediakan layanan.
Dalam konteks industrialisasi, penulis menyebut kekayaan sumber daya Indonesia dapat menjadi modal ekonomi apabila terhubung dengan kegiatan yang menghasilkan nilai tambah. Penulis menilai hilirisasi perlu dilihat juga dari pengembangan teknologi, pemasok domestik, keterampilan tenaga kerja, dan riset.
Opini itu juga menyoroti peluang pengembangan energi terbarukan. Menurut penulis, investasi pembangkit surya, angin, dan sumber lain dapat membuka ruang bagi industri komponen, rekayasa, penyimpanan energi, serta layanan operasi dan pemeliharaan di dalam negeri.
Penulis menilai perencanaan energi perlu diselaraskan dengan jaringan listrik, kawasan industri, kebutuhan tenaga kerja, dan akses pasar. Penulis juga menekankan bahwa kebijakan harus menyeimbangkan keterjangkauan, keandalan, keberlanjutan, dan penciptaan nilai tambah.
Sebagai ukuran keberhasilan, penulis mengusulkan agar evaluasi kebijakan tidak hanya menghitung kapasitas pembangkit, produksi, akses, dan tarif. Produktivitas industri, investasi yang terealisasi, rantai pasok domestik, penguasaan teknologi, dan nilai tambah juga perlu diperhatikan.