
Landas Hubung Suvarnabhumi Rusak, Pesawat Emirates Tertahan
15 menit yang lalu
Emas naik setelah dolar dan imbal hasil obligasi AS melemah; investor menanti data tenaga kerja AS.
Terbit · 1 min read

Harga emas dunia ditutup menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan Kamis (5/11/2026), menurut laporan CNBC Indonesia. Kenaikan itu terjadi di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengutip data Refinitiv, emas ditutup pada US$4.087,34 per troy ons, naik 0,68 persen. Posisi penutupan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 21 Oktober 2026.
Emas melanjutkan penguatan selama dua hari berturut-turut dengan kenaikan total 4,05 persen. Pada Jumat (6/11/2026) pukul 06.38 WIB, harganya naik tipis 0,004 persen menjadi US$4.087,49 per troy ons.
Laporan yang sama menyebut pelemahan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi, sementara indeks dolar AS turun ke level terendah sejak 30 September. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga berada di sekitar level terendah dalam hampir dua bulan.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger menilai pelemahan harga energi memunculkan harapan tekanan inflasi mereda dan kebutuhan kenaikan suku bunga Federal Reserve berkurang. Namun, ia mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai emas berisiko terkoreksi jika data tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan. Menurut Wong, hasil tersebut dapat memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember; ia juga menyebut data ketenagakerjaan belakangan ini sangat fluktuatif.
Di sisi lain, bank sentral Polandia telah mencapai target cadangan emas sebesar 700 ton metrik, tetapi masih membuka peluang menambah kepemilikannya. Berbeda dengan emas, perak melemah 0,89 persen pada Kamis (5/11/2026) dan ditutup di US$51,75 per troy ons, setelah naik 4,9 persen sehari sebelumnya.
Pada Jumat (6/11/2026) pukul 06.38 WIB, harga perak turun 0,25 persen ke US$51,75 per troy ons, menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Refinitiv. Investor juga menanti data tenaga kerja AS untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.