
ICF Usulkan 76 Ultimate Downhill Jadi Ajang Asia
12 menit yang lalu
KKP mendorong riset dan pemetaan untuk melindungi warisan maritim bawah laut serta mendukung masyarakat pesisir.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan riset dan pemetaan untuk melindungi situs maritim bawah laut Indonesia. Kementerian juga mendorong masyarakat pesisir menjadi pelaku utama pelestarian.
Dorongan itu disampaikan dalam The 6th Asia-Pacific Conference on Maritime and Underwater Cultural Heritage (APCONF6), yang berlangsung di Denpasar, Bali, pada 26–31 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan KKP dengan dukungan mitra dari dalam dan luar negeri.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan kekayaan laut mencakup warisan yang menjadi rumah bagi beragam biota. Di sejumlah daerah, warisan bawah laut juga dikelola sebagai destinasi wisata. Ia menyampaikan pandangan itu dalam siaran resmi di Jakarta pada Sabtu (31/10/2026).
Konferensi tersebut mengangkat tema tradisi dan perjalanan warisan maritim serta ekonomi biru di kawasan Asia-Pasifik. Trenggono mendukung pelaksanaannya dan berharap forum menjadi ruang pertukaran pengetahuan, kolaborasi, serta dialog kebijakan untuk menghubungkan pelestarian warisan maritim dengan pembangunan ekonomi biru.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Irwan Meilano mencontohkan Situs USAT Liberty, bangkai kapal kargo milik Angkatan Darat Amerika Serikat di dasar laut Tulamben, Bali. Situs itu menjadi contoh warisan bawah air yang dapat mendukung habitat biota sekaligus wisata bahari.
Meilano menjelaskan kapal karam merupakan jejak peradaban yang berkaitan dengan kehidupan laut dan penghidupan masyarakat. Ia menyebut penguatan riset, pemetaan, dan pemantauan situs dengan melibatkan masyarakat pesisir penting untuk menghadapi perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan habitat.
Meilano juga menilai kearifan lokal seperti sasi, Panglima Laot, dan awig-awig dapat menjadi landasan pengelolaan laut yang bertanggung jawab. Kepala BPPSDM KP I Nyoman Radiarta menyampaikan bahwa warisan maritim mencerminkan pengetahuan, tradisi, dan identitas yang diwariskan antargenerasi.
Kolaborasi, menurut Radiarta, diharapkan dapat melindungi warisan tersebut sekaligus mendukung mata pencaharian berkelanjutan dan masa depan lautan. Konferensi itu juga memperingati 15 tahun APCONF, yang disebut sebagai ulang tahun kristal; APCONF bermula di Manila, Filipina, pada 2011.