
Dewa United Hadapi Persija
13 menit yang lalu
Suahasil menyebut APBN perlu fleksibel menghadapi tantangan ekonomi, sementara penerbitan SBN tetap mempertimbangkan kondisi pasar.
Terbit · 1 min read

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pemerintah menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai 7,64 persen. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu kepada wartawan dalam Rapimnas Kadin di Jakarta hari itu.
Suahasil mengatakan pembiayaan anggaran dikelola untuk memberi fleksibilitas belanja negara dalam merespons perubahan ekonomi, termasuk kondisi global.
Ia menyebut volatilitas harga komoditas dan kenaikan suku bunga di banyak negara sebagai tantangan ekonomi yang perlu diantisipasi. Menurut Suahasil, APBN perlu fleksibel untuk mendukung kesejahteraan, pertumbuhan, dan perlindungan masyarakat, sekaligus tetap dipercaya dapat bekerja dengan baik.
Hingga 30 September 2026, pemerintah menarik pembiayaan utang Rp494,3 triliun, setara 59,4 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp832,2 triliun. Angka dan target tersebut tercantum dalam laporan ANTARA.
Pembiayaan melalui SBN secara neto mencapai Rp497,5 triliun atau 62,2 persen dari target Rp799,5 triliun. Sementara itu, pembiayaan pinjaman tercatat negatif Rp3,2 triliun, sedangkan target pembiayaan pinjaman neto sebesar Rp32,7 triliun.
Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta pada Jumat (9/10/2026), Suahasil menyatakan realisasi pembiayaan utang masih sesuai rencana, dengan mempertimbangkan kebutuhan kas pemerintah serta perkembangan pasar keuangan domestik dan global. Dalam konteks pembiayaan tersebut, imbal hasil SBN telah mencapai 7,64 persen.
Suahasil mengatakan pemerintah akan berhati-hati menerbitkan SBN dengan memperhatikan pasar obligasi dan dinamika ekonomi global. Ia menyebut penerbitan akan disesuaikan dengan kondisi pasar untuk menjaga efisiensi biaya pembiayaan.