
Persib Pimpin Grup E ACL 2 dengan Sembilan Poin
2 jam yang lalu
Perusahaan Jepang itu berencana mengolah bahan mentah menjadi produk untuk industri otomotif dan elektronik.
Terbit · 1 min read

Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) menyampaikan perusahaan logam mulia asal Jepang, Tanaka Precious Metal, berminat berinvestasi di Indonesia. Menurut laporan CNNIndonesia.com, Wakil Ketua APPI Arief Budiman mengatakan rencana itu telah disampaikan kepada Menteri Perindustrian Sarmuji.
Penyampaian tersebut berlangsung dalam pertemuan di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). Seusai pertemuan, Arief mengatakan, “Kita mendatangkan investor, Tanaka Precious Metal. Mereka akan berinvestasi di Indonesia,” sebagaimana dikutip CNNIndonesia.com.
Arief menjelaskan perusahaan itu berencana mengolah bahan mentah menjadi produk industri, termasuk potassium gold cyanide (PGC) dan kawat pengikat (bonding wire). Produk hilir tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri otomotif dan elektronik.
Menurut laporan yang sama, Arief menyebut pengolahan logam mulia selama ini lebih banyak terpusat di Taiwan dan negara lain, sementara bahan bakunya berasal dari tambang di Indonesia. Ia mengatakan, “Industri itu harus kita bawa di Indonesia, di mana apa yang dimiliki bangsa Indonesia ini dinikmati oleh rakyat Indonesia, yang selama ini tuh semuanya dinikmati oleh asing.”
Sarmuji disebut menyambut positif rencana hilirisasi tersebut dan mengarahkan APPI berkoordinasi lebih lanjut dengan direktorat terkait. APPI dijadwalkan mengadakan rapat dengan Direktorat Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian pada 2 November 2026.
Arief mengatakan belum ada kesepakatan mengenai nilai investasi. Calon investor itu masih ingin memastikan penyelesaian masalah regulasi terkait pasokan bahan baku kimia yang termasuk dalam daftar larangan dan pembatasan (lartas), terutama potassium cyanide.
APPI, menurut laporan CNNIndonesia.com, masih akan berkonsolidasi dengan Kementerian Perindustrian untuk meyakinkan calon investor tersebut agar menanamkan modal di Indonesia. Laporan itu tidak menyebutkan nilai investasi yang direncanakan.