
Adhi Karya Rampungkan Penggalian Terowongan MRT Fase 2A
14 menit yang lalu
Biaya produksi, investasi yang menyusut, dan perubahan platform menekan produksi serta pekerjaan di industri drama Korea.
Terbit · 2 min read

Belasan asosiasi industri pertelevisian Korea Selatan menyoroti krisis produksi drama domestik meski drama Korea sukses di pasar internasional. Menurut laporan CNNIndonesia.com yang mengutip Korea JoongAng Daily, Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea Song Byeong-joon menyoroti ironi kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi.
Para asosiasi menyampaikan persoalan itu dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11/2026). Mereka memaparkan sejumlah tekanan yang dinilai menghambat ekosistem tayangan domestik.
Song mengeluhkan penurunan jumlah produksi. Data asosiasi yang dikutip CNNIndonesia.com mencatat produksi drama turun sekitar 30 persen dalam dua tahun dari 141 judul pada 2022.
Stasiun televisi siaran bebas KBS, MBC, dan SBS juga menghadapi penurunan jumlah tayangan, dari 91 judul pada 2012 menjadi 32 judul pada 2025. Laporan itu menyebut perolehan iklan yang lesu turut memperberat keadaan.
Para pelaku industri menilai platform streaming asing, termasuk Netflix dan Disney+, merusak standar ongkos produksi dan merampas kemampuan perusahaan lokal untuk mempertahankan serta mengelola hak kekayaan intelektual. Reuters, sebagaimana dikutip CNNIndonesia.com, melaporkan Netflix meluncurkan layanannya di Korea Selatan pada 2016 dan pada 2023 berkomitmen menginvestasikan US$2,5 miliar di negara itu selama empat tahun.
Asosiasi juga menyoroti tren tayangan format pendek dan otomatisasi kecerdasan buatan yang dinilai berdampak pada ketersediaan lapangan kerja. Presiden Asosiasi Produser Drama Korea Kim Jong-chang menyoroti hilangnya ruang bagi talenta muda untuk membangun portofolio.
Penulis Park Hae-young mengatakan asisten penulis kini tidak memiliki pekerjaan, sementara jenjang karier kru di level bawah terhenti. Di sisi kebijakan, laporan CNNIndonesia.com menyebut Kementerian Kebudayaan Korea Selatan berencana memangkas rancangan anggaran sektor tersebut dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027.
Ekspor Korean Wave pada 2025 tercatat US$18,98 miliar, termasuk US$1,25 miliar dari industri penyiaran dan video. Sebagai perbandingan, Jepang menggelontorkan dana lima kali lipat untuk mengejar target ekspor konten US$1,6 miliar pada 2033.
Para sineas mendesak pemerintah menyusun strategi pemulihan dan membentuk dana investasi jangka menengah serta panjang senilai 1 triliun won untuk produksi lokal. Song menilai jumlah produksi yang luas penting bagi pertumbuhan kreator, bukan hanya keberhasilan satu drama di pasaran.