
Prabowo Rancang Rp400 Triliun untuk Petani dan Nelayan
14 menit yang lalu
Selain izin edar obat, BPOM merekomendasikan penurunan 451.791 tautan produk ilegal dan diakui WHO.
Terbit · 1 min read

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin edar untuk 43 produk obat tuberkulosis (TB) dan menyetujui 33 produk obat generik pertama untuk berbagai indikasi selama 2024–2026. Menurut laporan ANTARA, persetujuan obat generik itu mencakup antara lain obat untuk kanker, TB, dan diabetes.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan capaian tersebut di Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Ia mengatakan capaian itu merupakan bagian dari upaya memperluas pilihan terapi dan mendukung akses masyarakat terhadap obat.
Taruna menyebut BPOM mendukung program prioritas pemerintah melalui pengawasan berbasis risiko, kolaborasi lintas sektor, serta pendampingan bagi pelaku usaha dan penyelenggara program.
“Dukungan BPOM terhadap agenda pemerintah diwujudkan melalui kerja nyata dalam melindungi masyarakat, memastikan keamanan obat dan makanan, serta mendorong tumbuhnya industri yang berdaya saing,” kata Taruna.
Pemerintah menargetkan eliminasi TB sebagai salah satu program percepatan kesehatan. Data Kementerian Kesehatan per Oktober 2026 yang dikutip ANTARA mencatat 666 ribu kasus ditemukan dari estimasi 1.080.000 kasus; tingkat pengobatan disebut mencapai 90 persen atau 599 ribu kasus.
Terkait pencapaian selama dua tahun periode Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, BPOM menyebut pada 1 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2026 pihaknya menyidik 360 perkara secara pro-justitia dengan nilai barang bukti Rp335 juta. Lembaga itu juga merekomendasikan penurunan 451.791 tautan daring yang menjual produk ilegal dan memasukkan 1.602 produk ilegal ke daftar negatif.
ANTARA juga melaporkan pengakuan BPOM sebagai WHO-Listed Authority pada Desember 2025. BPOM menyebut pengakuan itu mendukung kredibilitas sistem regulasi obat Indonesia serta kepercayaan global terhadap pengawasan obat nasional.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengatakan penurunan insiden TB selama dua tahun terakhir berkaitan dengan skrining dan pengobatan yang lebih intensif. Upaya lain yang disebut dalam laporan meliputi pengobatan kontak erat pasien, uji klinis vaksin M72, dan pengembangan regimen untuk mempersingkat masa pengobatan dari 4–6 bulan menjadi sebulan.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.