
Bayern dan Dortmund Berimbang 2-2 di Der Klassiker
14 menit yang lalu
Perimenopause dapat memengaruhi menstruasi, tidur, suasana hati, serta kesehatan vagina dan dasar panggul.
Terbit · 1 min read

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Kanadi Sumapradja dan Astrid Yunita menjelaskan gejala serta penanganan perimenopause. Menurut laporan ANTARA, fase ini merupakan masa transisi menuju menopause yang berkaitan dengan perubahan fungsi ovarium dan kadar hormon.
Laporan ANTARA yang terbit pada 1 November 2026 itu memuat penjelasan kedua dokter dari RSPI. Materi tidak mencantumkan tanggal kejadian tertentu; isinya membahas perubahan yang dapat dialami selama perimenopause.
Perimenopause umumnya mulai terjadi pada usia 40–50 tahun, dan sekitar 12 persen dialami pada usia 40–44 tahun. Kanadi, dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi, menjelaskan bahwa berkurangnya cadangan ovarium serta perubahan kadar estrogen dan progesteron dapat mengubah durasi dan volume menstruasi.
Penurunan progesteron dapat membuat ovulasi lebih jarang terjadi atau berhenti sama sekali. Gejala yang dapat muncul meliputi siklus menstruasi tidak teratur, nyeri berkepanjangan, rasa panas, keringat malam, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, dan perubahan suasana hati.
Laporan itu juga menyebut kelelahan, nyeri, perubahan berat badan, serta risiko kesehatan jangka panjang seperti osteoporosis dan gangguan kardiovaskular. Kanadi mengatakan pemeriksaan di fasilitas kesehatan dapat membantu mengidentifikasi gejala dan penyebabnya agar penanganan sesuai.
Kanadi menyarankan pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, tidur cukup, pengelolaan stres, tidak merokok, membatasi alkohol, menjaga berat badan ideal, serta mencukupi vitamin D dan kalsium. Pemenuhan kebutuhan kalsium disarankan untuk membantu menjaga kepadatan tulang.
Astrid, dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis uroginekologi rekonstruksi, menjelaskan bahwa penurunan estrogen dapat menyebabkan dinding vagina menipis, kering, dan kurang elastis. Perubahan pada area urogenital dan dasar panggul juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan saat berhubungan intim atau inkontinensia urine.
Untuk keluhan dasar panggul, Astrid menyarankan senam Kegel dan latihan kebugaran dengan pendampingan ahli. Ia juga menyebut pelembap vagina atau salep estrogen topikal untuk mengurangi ketidaknyamanan, serta menyarankan konsumsi ikan dan minyak ikan untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan makanan kaya serat untuk membantu menjaga berat badan.