
PB Djarum Beri Bonus Rp200 Juta kepada Atlet
14 menit yang lalu
Halloween berakar dari tradisi kuno masyarakat Kelt dan berkembang menjadi perayaan populer dengan beragam kegiatan.
Terbit · 2 min read

Halloween diperingati setiap 31 Oktober dengan tradisi seperti mengenakan kostum, mengukir labu, dan meminta permen dari rumah ke rumah. Menurut laporan ANTARA, perayaan yang populer di sejumlah negara ini berakar dari tradisi masyarakat Kelt kuno di Eropa.
Perayaan tersebut dikenal di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan terutama populer di Amerika Serikat. Menurut laporan yang sama, asal-usul Halloween dikaitkan dengan Samhain, festival masyarakat Kelt di wilayah yang kini mencakup Irlandia, Inggris, dan sebagian Eropa Barat.
Samhain menandai berakhirnya musim panen dan dimulainya musim dingin. Dalam penanggalan masyarakat Kelt, masa itu juga menjadi penanda pergantian tahun pada awal November.
Masyarakat Kelt kuno meyakini malam menjelang Samhain sebagai waktu ketika batas antara dunia orang hidup dan dunia roh menjadi kabur. Mereka percaya roh orang yang meninggal dapat kembali ke dunia manusia pada malam tersebut.
Untuk menghadapi hal yang dianggap mengancam, masyarakat menyalakan api unggun dan mengenakan penyamaran. Praktik itu diyakini berkaitan dengan upaya melindungi diri dari roh jahat sekaligus menyambut pergantian musim.
Perkembangan Halloween juga dipengaruhi tradisi Kristen di Eropa. Gereja menetapkan 1 November sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus untuk menghormati para santo dan santa, sedangkan 2 November dikenal sebagai Hari Peringatan Arwah Umat Beriman untuk mengenang umat beriman yang telah meninggal.
Malam sebelum Hari Raya Semua Orang Kudus disebut Malam Semua Orang Kudus, istilah yang kemudian berkembang menjadi Halloween. Menurut laporan yang sama, tradisi Kelt, kebiasaan setempat, dan pengaruh agama membentuk perayaan itu selama berabad-abad.
Halloween semakin populer di Amerika Serikat setelah imigran dari Irlandia dan wilayah Eropa lain membawa tradisi mereka ke sana pada abad ke-19. Perayaan yang kemudian lebih banyak menjadi kegiatan sosial dan hiburan ini mencakup pesta kostum, pembagian permen, serta dekorasi bertema seram.
Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah meminta permen dari rumah ke rumah, ketika anak-anak berkostum mendatangi rumah untuk meminta permen atau makanan ringan. Lentera labu berukir juga menjadi simbol Halloween; sebelumnya, masyarakat di sejumlah wilayah Eropa menggunakan lobak atau sayuran lain sebagai lentera.
Kini, Halloween dirayakan melalui berbagai kegiatan, termasuk pesta kostum, menonton film horor, dan acara komunitas. Menurut laporan yang sama, perayaan modern lebih menonjolkan hiburan, kreativitas, dan kebersamaan.