
Perempuan Tewas Tertabrak Motor di Tambun
14 menit yang lalu
Nasaruddin Umar berharap pesantren mengembangkan pendidikan terbuka dan mendorong santri menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi.
Terbit · 1 min read

Menteri Agama Nasaruddin Umar berharap pesantren di Indonesia menghidupkan kembali tradisi keilmuan seperti yang berkembang di Baitul Hikmah. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan harapan itu dalam acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurut laporan yang sama, Nasaruddin mengatakan Baitul Hikmah menjadi contoh lembaga pendidikan Islam yang berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi ilmuwan dari beragam latar belakang.
Menurut laporan yang sama, ia menjelaskan Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi, lalu dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada 813 Masehi.
Menurut laporan yang sama, Nasaruddin mengatakan tradisi keilmuan di lembaga itu melahirkan ilmuwan yang berkontribusi dalam beragam bidang. Ia mencontohkan Jabir bin Hayyan dalam kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam optika, serta Ibnu Sina dan Al-Razi dalam kedokteran.
Menurut laporan yang sama, ia juga mencontohkan Ibnu Rusyd yang menguasai sejumlah disiplin, termasuk kedokteran, filsafat, dan fikih. Nasaruddin menilai capaian para ilmuwan itu menunjukkan ilmu pengetahuan tidak semestinya dibatasi pada satu bidang.
Menurut laporan yang sama, Nasaruddin menyoroti keterbukaan Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, dan kelompok lain dalam pembelajaran serta penelitian. Ia mengatakan, “Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan.”
Ia berharap tradisi tersebut menginspirasi pesantren untuk terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan mendorong kerja sama lintas disiplin. Tantangan pesantren, menurutnya, juga mencakup persiapan santri agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut laporan yang sama, Nasaruddin berharap lebih banyak santri menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa. Ia mengatakan, “Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah.”