
Ahli Sarankan Batas Simpan Sisa Makanan
26 menit yang lalu
Program GENTING menghadapi kendala di lapangan, mulai dari keengganan keluarga hingga pernikahan dini.
Terbit · 1 min read

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji memaparkan sejumlah kendala pelaksanaan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Menurut laporan CNN Indonesia, tantangan itu mencakup keengganan sebagian keluarga untuk membawa anak ke Posyandu dan sulitnya pemerintah daerah mengakui tingginya risiko stunting.
Wihaji menyampaikan hal tersebut setelah acara GENTING Collaboration Summit 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026). Ia mengatakan, pada 2025 terdapat 8 juta keluarga di Indonesia yang teridentifikasi sebagai keluarga risiko stunting (KRS), yakni keluarga dengan satu atau lebih faktor risiko.
Program GENTING menjadi salah satu bentuk intervensi bagi keluarga tersebut. Laporan CNN Indonesia menyebut bantuan program itu berasal dari orang tua asuh, bukan dari dana APBN, dengan nilai sekitar Rp96 miliar.
Menurut Wihaji, sebagian keluarga merasa malu atau khawatir dianggap berisiko stunting sehingga enggan membawa anak ke Posyandu. Akibatnya, orang tua bisa tidak mengetahui kondisi kesehatan anak, termasuk kemungkinan adanya stunting.
Wihaji mengatakan intervensi untuk anak stunting masih dapat dilakukan dengan langkah yang tepat ketika anak berusia di bawah dua tahun. Ia menyebut penanganan lebih sulit jika kondisi itu baru diketahui setelah anak berusia di atas dua tahun.
Tantangan lain, kata Wihaji, adalah pemerintah daerah yang terkadang enggan mengakui tingginya angka KRS atau stunting di wilayahnya. Ia juga menyebut pernikahan dini sebagai kendala yang perlu dihadapi petugas melalui penjelasan dan edukasi berulang.
Bantuan sekitar Rp96 miliar itu diarahkan untuk sejumlah kebutuhan, termasuk nutrisi, rumah layak huni, jamban sehat, air bersih, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi. CNN Indonesia melaporkan data Kemendukbangga mencatat 182.682 orang tua asuh dari kalangan perorangan, komunitas, swasta, akademisi, dan media.