
Topan Champi Picu Pemadaman Listrik di Taiwan
11 menit yang lalu
Penyesuaian staf dilakukan di sejumlah pos AS setelah muncul kekhawatiran terhadap ancaman keamanan di kawasan.
Terbit · 1 min read

Amerika Serikat memindahkan sejumlah diplomat dan keluarga mereka dari pos-pos di Timur Tengah karena meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik, menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Memo bertanggal 23 Oktober 2026 yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut intelijen AS menilai Iran meningkatkan upaya menargetkan personel AS di Timur Tengah.
Seorang sumber mengatakan kepada CNN bahwa pemerintah AS terus mengevaluasi informasi keamanan terbaru. Ancaman serangan Houthi dan rencana teror Iran terhadap pejabat AS disebut menjadi pertimbangan dalam penyesuaian staf di sejumlah perwakilan pemerintah AS.
Pemindahan tersebut membuat sejumlah diplomat frustrasi karena beberapa di antaranya baru kembali ke pos masing-masing. Seorang diplomat AS mengatakan gaji dan tunjangan mereka tidak mencakup biaya memindahkan seluruh keluarga dari kawasan itu.
Menurut laporan yang sama, banyak keluarga diplomat sebelumnya diminta meninggalkan Timur Tengah ketika perang AS-Iran pecah pada Februari 2026. Sebagian baru kembali, memperoleh tempat tinggal, dan mendaftarkan anak mereka ke sekolah sebelum kembali diminta pergi.
Nikki Gamer, juru bicara American Foreign Service Association, mengatakan kepada CNN bahwa situasi tersebut mengulang kekacauan yang dialami keluarga diplomat pada awal tahun. Ia menyebut sebagian keluarga belum sempat menetap kembali dan menyatakan bahwa perasaan kesal, bingung, dan marah yang mereka rasakan dapat dimengerti.
Pekan ini, Kementerian Luar Negeri AS memerintahkan personel non-darurat dan keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Pejabat AS menyatakan langkah itu merespons meningkatnya eskalasi oleh kelompok milisi Houthi.
Pejabat Kementerian Luar Negeri AS membenarkan kepada CNN adanya perubahan sementara jumlah staf di Lebanon, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania, tetapi mengatakan tidak ada perubahan untuk staf di Kuwait dan Bahrain. Laporan CNN juga menyebut konflik Houthi dan Saudi kembali memanas sejak Juli 2026 serta Presiden Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan serangan baru ke Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November 2026, di tengah mandeknya negosiasi damai dengan Teheran.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.