
DPRD Sulut Perketat Pengawasan Dinas Kominfo
11 menit yang lalu
Rachmat Pambudy menyebut pemenuhan gizi dan kesehatan sebagai fondasi pembangunan manusia.
Terbit · 1 min read

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur sosial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurut laporan ANTARA, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyampaikan hal itu dalam Danantara Technology & Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta.
Rachmat menyampaikan pandangannya pada Senin (26/10/2026). Ia mengatakan pembangunan infrastruktur seharusnya tidak hanya mencakup jalan, jembatan, dan pelabuhan, tetapi juga infrastruktur sosial.
Dalam forum tersebut, Rachmat mengatakan pemenuhan pangan dan gizi serta penanganan tengkes merupakan fondasi pembangunan manusia. Ia menilai kesehatan jasmani dan rohani diperlukan agar masyarakat dapat berkontribusi pada produktivitas ekonomi.
Rachmat mengatakan, “Belanja yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan yang terbesar adalah memberi makan. Karena tidak mungkin (masyarakat sehat) kalau makanannya tidak cukup, ya harus negara yang ambil alih,” menurut laporan yang sama.
Ia juga menilai kekayaan alam tidak akan memberi dampak optimal tanpa pengembangan kualitas sumber daya manusia. Menurut Rachmat, bila kekayaan alam yang dimiliki tidak ditopang pengembangan sumber daya manusia, yang diekspor hanya komoditas ekstraktif tanpa nilai tambah, sehingga infrastruktur sosial perlu dibangun.
Setelah kebutuhan gizi dasar dan kesehatan masyarakat terjamin, pembangunan sumber daya manusia diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, terutama di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Menurut laporan yang sama, Rachmat menilai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi penting agar Indonesia dapat mengolah sumber daya alam menjadi produk industri bernilai tambah, bukan sekadar menjual bahan mentah.
Rachmat juga menekankan sinergi infrastruktur sosial dengan infrastruktur fisik, ekonomi, dan digital. Ia berharap pengembangan keempatnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, serta menyebut pendekatan serupa pernah dilakukan pada periode 1970-an hingga 1980-an, saat sumber daya yang dimiliki Indonesia masih berupa pertanian.
Ia menambahkan, potensi Indonesia saat ini didukung ketersediaan mineral kritis yang dibutuhkan industri global. Rachmat mengaitkan potensi tersebut dengan peluang mendorong pertumbuhan ekonomi.