
Pramono Imbau ASN DKI Bijak Bermedia Sosial
10 menit yang lalu
Kemendikdasmen merevitalisasi 836 SLB untuk mendukung pendidikan inklusif melalui bangunan aman, aksesibel, dan fasilitas sesuai kebutuhan murid.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merevitalisasi 836 sekolah luar biasa (SLB) pada tahun ini. Program itu mengutamakan keamanan bangunan, aksesibilitas, dan fasilitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid penyandang disabilitas.
Program tersebut disertai finalisasi desain teknis pembangunan dan bimbingan teknis di Kota Tangerang, Provinsi Banten. Waktu pelaksanaan kegiatan itu tidak disebutkan. Kemendikdasmen mendorong sekolah menyusun rencana revitalisasi yang memperhatikan kondisi bangunan dan kebutuhan pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang layak, termasuk anak penyandang disabilitas. Ia menyebut kondisi bangunan dan fasilitas sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan murid. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta Pusat pada Rabu (4/11/2026).
“Revitalisasi ini bukan tujuan, tetapi sarana untuk menghadirkan gedung sekolah yang representatif dan pendidikan yang unggul,” ujar Mu’ti, menurut laporan yang sama.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyatakan kebutuhan perbaikan sarana pendidikan masih besar. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan yang disampaikannya, lebih dari 900 ribu ruang kelas mengalami kerusakan sedang dan berat serta membutuhkan penanganan.
Tatang juga menyebut sejumlah sekolah masih memerlukan ruang kelas baru. Ia meminta kepala sekolah menggunakan bantuan sesuai kebutuhan dan rencana, serta tidak menanggapi permintaan yang menyimpang dari peruntukan bantuan.
Pengawasan program melibatkan Kejaksaan Agung dan Kementerian Keuangan, termasuk untuk kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan. Pelaksana Tugas Kepala SLBN Surade Rhadeya Phawitra menyampaikan sekolahnya membutuhkan ruang serbaguna, ruang UKS, dan ruang keterampilan; ia juga menyoroti kondisi bangunan tua, atap bermasalah, dan instalasi listrik yang tidak stabil.
Menurut laporan yang sama, akses bangunan dapat memengaruhi kesempatan murid mengikuti kegiatan sekolah, terutama bagi peserta didik dengan hambatan motorik. Laporan itu juga menyebut fasilitas yang aksesibel dapat mendukung partisipasi murid dalam kegiatan di luar kelas. Perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi tiap sekolah diharapkan menghasilkan fasilitas yang aman dan dapat digunakan secara optimal, termasuk jalur aksesibel dan ruang terapi.