
Tavares Janji Persebaya Terus Berjuang
21 menit yang lalu
AirNav memaparkan sistem pertukaran informasi, kecerdasan buatan, dan pemantauan gangguan sinyal navigasi.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNNIndonesia.com, AirNav Indonesia menampilkan sejumlah inovasi untuk mendukung modernisasi layanan navigasi penerbangan dalam sesi Business Briefing di Arlington, Virginia, Amerika Serikat. Sesi tersebut berlangsung pada 27 Oktober 2026, dalam rangkaian Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission yang diselenggarakan United States Trade and Development Agency.
Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap mewakili perusahaan dalam forum itu. Ia menyampaikan bahwa pengembangan teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan operasional navigasi penerbangan di wilayah kepulauan.
Inovasi yang dipaparkan meliputi pertukaran informasi penerbangan, pemanfaatan kecerdasan buatan, dan pemantauan gangguan sinyal navigasi satelit. Dalam keterangan resmi pada 30 Oktober 2026, Zainal mengatakan, “Mengelola navigasi penerbangan di negara kepulauan menuntut adaptasi teknologi yang berkelanjutan. Kami tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (Communication, Navigation, and Surveillance/CNS) yang ada, tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI) guna menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis.”
AirNav melayani navigasi penerbangan di FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang dengan luas wilayah pelayanan sekitar 7,79 juta kilometer persegi. Perusahaan menangani sekitar 5.000 penerbangan per hari dan wilayah pelayanannya berbatasan dengan 10 FIR negara tetangga.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Flight and Flow Information for a Collaborative Environment (FF-ICE), sistem untuk mendukung pertukaran informasi penerbangan. Sistem itu telah didemonstrasikan dalam APAC TBO Pathfinder Conference di Hanoi, Vietnam, pada 23 Juli 2025.
AirNav juga mengembangkan penyusunan NOTAM berbasis kecerdasan buatan bersama Telkom University. Teknologi tersebut menggunakan model bahasa besar untuk membantu mengubah masukan bahasa biasa menjadi format NOTAM terstandar.
Untuk pemantauan, AirNav menampilkan GNSS Radio Frequency Interference Monitoring, sistem yang dirancang memantau gangguan frekuensi radio pada sinyal navigasi satelit secara waktu nyata. Sistem itu dapat mengidentifikasi indikasi gangguan, memetakan lokasi, dan memberikan peringatan untuk mendukung pemantauan operasional.
Inovasi lain yang dipaparkan mencakup EMIRA, sistem manajemen lalu lintas udara terintegrasi dan modular yang dikembangkan secara internal, serta teknologi ADS-B berbasis Internet of Things untuk memperluas cakupan pengamatan penerbangan. Zainal juga menyampaikan rencana pengembangan Remote/Digital Tower, Satellite-Based Augmentation System, dan Transponder Landing System.
Menurut laporan yang sama, peluang kolaborasi dalam forum tersebut mencakup studi kelayakan, riset, uji coba teknologi, dan pengembangan kompetensi personel. Program RTM berlangsung pada 26 Oktober hingga 6 November 2026 dengan melibatkan delegasi Indonesia dan Filipina, yang bertemu perusahaan Amerika Serikat untuk membahas kebutuhan dan peluang kerja sama di bidang keselamatan serta keamanan penerbangan.