
Polisi Amankan Dua Terduga Copet di Konser Setiabudi
12 menit yang lalu
Anak 12 tahun di China didiagnosis coral reef aorta, endapan keras di aorta yang memicu tekanan darah sangat tinggi.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia yang melansir Medical Daily, seorang anak berusia 12 tahun asal China dilarikan ke rumah sakit karena tekanan darahnya mencapai 225/158 mmHg. Kasus medis yang disebut langka itu dipicu endapan keras di dalam aorta.
Tekanan darah normal umumnya berada di bawah 120/80 mmHg. Angka pada anak tersebut jauh melampaui batas itu.
Penyebabnya adalah endapan keras bergerigi di aorta, arteri utama tubuh, yang secara medis disebut coral reef aorta. Kondisi ini jarang terlihat pada anak.
Menurut laporan yang sama, kasus ini dipublikasikan pada medio Juli di Journal of Medical Case Reports. Laporan tersebut dibuat tim dokter dari rumah sakit Xinjiang Medical University di Urumqi, yang menggambarkan kasus ini sebagai kondisi yang sangat langka di seluruh dunia.
Gejala bermula dari sakit kepala ringan yang terus kambuh selama lebih dari lima bulan. Sakit kepala itu bisa berlangsung 3-4 jam dan disertai pusing, kelelahan, serta muntah.
Di rumah sakit, dokter sempat mendiagnosis pasien dengan poliarteritis nodosa, penyakit inflamasi yang merusak arteri kecil dan sedang. Tim dokter juga menemukan infark di kedua ginjal dan limpa, yakni area jaringan yang rusak akibat kehilangan suplai darah, serta pengerasan aorta. Pemberian infus dan obat tekanan darah tidak berhasil mengendalikan tekanan darahnya, hingga pemeriksaan lanjutan memperlihatkan coral reef aorta.
Coral reef aorta adalah kondisi langka ketika plak keras seperti batu tumbuh di bagian dalam aorta dan dapat menghambat aliran darah ke cabang yang memasok ginjal dan usus. Pada orang dewasa, kondisi ini sering disertai faktor risiko penyakit jantung seperti kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok. Pasien anak dalam studi ini tidak memiliki kolesterol tinggi, diabetes, ataupun riwayat merokok, dan dokter menyingkirkan kemungkinan gangguan metabolisme kalsium dan fosfat.
Tim dokter kemudian menemukan tuberkulosis paru aktif pada pasien. Namun, tuberkulosis bukan pemicu yang umum bagi coral reef aorta. Penyakit itu memang dapat memicu peradangan di seluruh tubuh, tetapi hubungannya dengan coral reef aorta masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Setelah prosedur untuk membuka arteri ginjal yang menyempit dilakukan, tekanan darah pasien perlahan menurun dan tetap terkontrol selama masa tindak lanjut. Pada 2024, kasus serupa pernah dilaporkan pada seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang telah menjalani perbaikan aorta menyempit saat masih bayi.