
Helikopter Pemadam Jatuh di Sungai Barito, Kru Selamat
21 menit yang lalu
Tiga negara menargetkan reaktor nuklir untuk mendukung pangkalan dan penambangan es di Bulan.
Terbit · 2 min read

Amerika Serikat, Rusia, dan China berencana membangun reaktor nuklir di Bulan untuk mendukung kegiatan di sana. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Al Jazeera, para ilmuwan telah memperingatkan risiko kecelakaan radioaktif dari rencana tersebut.
Laporan itu menyebut NASA menargetkan pembangunan reaktor pada akhir 2030, sedangkan Rusia dan China merencanakan pangkalan bertenaga nuklir pada 2036. Lokasi yang dibidik adalah Bulan, terutama kawasan kawah yang menyimpan es beku.
Reaktor diharapkan memasok listrik bagi peralatan penambangan es. Para ilmuwan meyakini es dapat diolah menjadi air minum, udara, dan bahan bakar roket untuk mendukung pangkalan masa depan.
NASA merancang Lunar Reactor 1 dengan berat kurang dari 6.000 kilogram dan kapasitas 20 kilowatt. Reaktor Selena Rusia diproyeksikan memiliki berat 1.100 hingga 1.300 kilogram agar lebih mudah didaratkan.
Menurut laporan yang sama, Amerika Serikat telah menghabiskan US$20 miliar untuk program nuklir luar angkasa selama 70 tahun, tetapi belum berhasil meluncurkan reaktor ke luar angkasa. Laporan itu menyebut eksperimen pada 1965 gagal setelah berlangsung selama 43 hari.
Uni Soviet sebelumnya meluncurkan lebih dari 30 reaktor fisi nuklir ringan ke orbit Bumi pada akhir 1960-an hingga 1980-an. Reaktor tersebut digunakan untuk menggerakkan satelit mata-mata selama Perang Dingin.
Panel surya dinilai memiliki keterbatasan di Bulan sehingga tenaga nuklir kembali dipertimbangkan. Simon Middleburgh, Direktur Nuclear Futures Institute di Bangor University, menilai tenaga nuklir sebagai pilihan yang masuk akal, tetapi penggunaannya perlu bertanggung jawab; tantangannya mencakup regulasi peluncuran, ketersediaan platform peluncuran, pendaratan, dan persiapan sistem.
Laporan itu mengaitkan meningkatnya persaingan dengan perintah Presiden AS Donald Trump kepada NASA pada Desember 2025 untuk membangun reaktor. Menteri Transportasi AS Sean Duffy juga menyebut persaingan dengan China dalam perlombaan menuju Bulan pada Agustus 2026.
Para analis memperingatkan risiko jika reaktor aktif jatuh kembali ke Bumi, dengan insiden satelit Kosmos 954 pada 1978 sebagai pembanding. Middleburgh menilai kontaminasi radioaktif akibat kecelakaan di Bulan akan sangat terbatas secara lokal.
Traktat Luar Angkasa 1967 melarang negara mengklaim Bulan, tetapi tidak melarang penggunaan nuklir. Ilmuwan Senior Planetary Science Institute Norbert Schorghofer menyatakan negara penandatangan memiliki hak menambang permukaan Bulan untuk tujuan damai; laporan itu juga menyebut kekhawatiran bahwa negara yang lebih dahulu mencapai kawasan es dapat menetapkan zona aman dan membatasi akses pihak lain.