
Tiga Tim Indonesia Bidik Gelar FFWS 2026
13 menit yang lalu
Akses tidak sah diduga membahayakan ribuan data pribadi; sistem paspor dan saran perjalanan tidak terdampak.
Terbit · 1 min read

Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan sekitar 3.600 data pribadi kemungkinan terdampak akses tidak sah ke sistemnya. Informasi itu disampaikan pada Jumat (30/10/2026), menurut laporan ANTARA.
Kebocoran tersebut mencakup informasi seperti nama dan alamat surel. Surat kabar Nikkei, sebagaimana dikutip ANTARA, melaporkan sekitar 900 data terdampak merupakan milik orang di luar kementerian.
Kementerian mendeteksi pelanggaran keamanan itu pada Rabu. Setelah mengetahui insiden tersebut, kementerian memblokir akses lebih lanjut dan membatalkan kredensial autentikasi.
Penyelidikan menemukan informasi pribadi mungkin telah bocor kepada pihak ketiga. Namun, kementerian meyakini tidak ada data yang sangat rahasia ikut terdampak.
Sistem paspor dan layanan saran perjalanan Jepang tidak terdampak insiden tersebut. Kementerian juga menyatakan akan memperkuat keamanan siber untuk mencegah kejadian serupa.
Secara terpisah, All Nippon Airways menyatakan data pribadi sekitar 37.800 pelanggan, termasuk nomor paspor, bocor akibat akses tidak sah ke sistem layanan penumpang milik kontraktor. ANTARA mengutip laporan Kyodo News mengenai insiden itu.
Operator jaringan ritel Muji, Ryohin Keikaku, juga mengungkapkan bahwa hingga 27,26 juta data pelanggan mungkin terekspos melalui akses tidak sah ke aplikasi resminya. Perusahaan menyatakan nama dan informasi kartu kredit tidak ikut terdampak.
Laporan The Japan News pada Jumat (30/10/2026), berdasarkan data Komisi Perlindungan Informasi Pribadi pemerintah Jepang, menyebut informasi pribadi sekitar 260 juta orang terdampak antara April dan pertengahan Oktober. Insiden-insiden itu terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran keamanan siber yang menimpa berbagai perusahaan di Jepang.