
Pelindo dan Port of Los Angeles Teken MoU
17 menit yang lalu
Laporan 2026 mencatat dampak panas terhadap kematian dan jam kerja, sementara bahan bakar fosil masih mendominasi pasokan energi.
Terbit · 1 min read

Laporan Lancet Countdown tentang Kesehatan dan Perubahan Iklim 2026 menyebut banyak risiko kesehatan terkait iklim meningkat lebih cepat pada dekade setelah Perjanjian Paris 2015 dibandingkan dekade sebelumnya. Menurut laporan ANTARA yang mengutip pernyataan Universitas Sydney, temuan itu disampaikan pada Jumat (6/11/2026).
Laporan tersebut memperkirakan suhu panas berkaitan dengan rata-rata 540.800 kematian per tahun pada 2016–2023. Perubahan iklim diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 68 persen dari jumlah itu.
Pada 2023, yang disebut sebagai tahun terpanas dalam periode tersebut, suhu panas dikaitkan dengan 710.000 kematian secara global. Lebih dari 70 persen kematian itu dikaitkan laporan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Laporan yang sama menyatakan paparan suhu panas menyebabkan hilangnya sekitar 573 miliar potensi jam kerja pada 2025. Dampak tersebut juga dikaitkan dengan potensi kehilangan pendapatan senilai 1,07 triliun dolar AS.
Laporan itu mencatat investasi energi bersih global mencapai rekor 2,1 triliun dolar AS pada 2025. Namun, bahan bakar fosil masih memasok lebih dari 80 persen energi dunia.
Polusi dari bahan bakar fosil dikaitkan dengan sekitar 2,73 juta kematian setiap tahun, menurut laporan tersebut.
Laporan 2026 tersebut disusun oleh 146 peneliti dari 71 institusi, termasuk tujuh peneliti dari Universitas Sydney. University College London memimpin penyusunannya melalui kolaborasi strategis dengan Organisasi Kesehatan Dunia.