
Tiga Tim Indonesia Bidik Gelar FFWS 2026
12 menit yang lalu
Proyeksi WEF hingga 2030 mencakup dampak otomatisasi dan digitalisasi, bukan AI secara khusus.
Terbit · 2 min read

Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Dedy Permadi, memaparkan proyeksi dampak otomatisasi dan digitalisasi terhadap pekerjaan serta ekonomi Indonesia. Menurut laporan CNN Indonesia, proyeksi World Economic Forum (WEF) menyebut 170 juta pekerjaan dapat tercipta dan 92 juta lainnya hilang hingga 2030.
Dedy menyampaikan hal itu dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Ia menjelaskan angka tersebut merujuk pada laporan WEF yang diterbitkan pada 2020 dan mencakup otomatisasi serta digitalisasi secara luas, bukan AI saja.
Dedy menyebut AI berpotensi menyumbang US$366 miliar terhadap produk domestik bruto Indonesia pada 2030. Perkiraan itu menggunakan asumsi kurs Rp18.147 per dolar AS, setara sekitar Rp6.641,82 triliun; angka tersebut merupakan proyeksi yang disampaikan Dedy, bukan kepastian.
Menurut laporan yang sama, Dedy menyebut partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia tercatat 56 persen, dibandingkan 84 persen pada laki-laki. Ia mengatakan keterwakilan data yang tidak proporsional dalam pengembangan AI berisiko memperkuat bias gender.
Dedy juga menyoroti lebih dari 23 juta penyandang disabilitas di Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan akses kerja. AI dapat membuka peluang bagi kelompok tersebut, tetapi berpotensi menambah hambatan jika kebutuhan mereka tidak diperhatikan.
Dedy mengatakan Indonesia menyelesaikan penilaian kesiapan AI bersama UNESCO pada 2023 dan hasilnya diterbitkan pada 2024. Penilaian itu menjadi salah satu bahan pemerintah dalam menyusun rancangan peraturan presiden mengenai etika AI dan peta jalan AI; pendekatan pengaturannya dapat berlaku untuk sektor tertentu maupun lintas sektor.
Ia mengingatkan aturan yang terlalu ketat berisiko membatasi inovasi dan investasi. Menurut laporan yang sama, Dedy mencontohkan kewajiban menyimpan seluruh data di Indonesia dapat memengaruhi investasi pusat data; ia juga mengatakan investor cenderung memilih Johor Bahru dibandingkan Batam karena kejelasan regulasi dan kepastian penegakan hukum.
Dedy memaparkan kerja sama AI Indonesia-Korea Selatan di bidang kesehatan dasar melalui nota kesepahaman yang ditandatangani saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan. Kerja sama itu mencakup layanan kesehatan primer, kesejahteraan digital, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental, serta ketahanan kesehatan; Dedy mengusulkan layanan kesehatan jarak jauh berbasis AI di puskesmas, terutama di wilayah perdesaan dan kepulauan.
Dedy menjelaskan tahapan kerja sama direncanakan dimulai pada Juni 2027 dengan penyiapan infrastruktur AI dan digital, model serta tenaga ahli dari Korea, sementara Indonesia menyediakan data, pendanaan bersama, dan perincian pelaksanaan. Pada April 2029, model AI dari Korea diharapkan telah diuji di wilayah kepulauan dan dapat diperluas penerapannya di Indonesia maupun Korea; tahap ketiga, pada 1 Januari 2031, diarahkan pada riset dan pengembangan serta kepemilikan bersama.
Dedy menyebut pemantauan, tata kelola data, hak kekayaan intelektual, anggaran, target, dan jadwal nota kesepahaman masih perlu diperjelas. Menurut laporan yang sama, koordinasi lanjutan Indonesia dan Korea Selatan untuk membahas pelaksanaannya dilakukan pada 13 Mei.
Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology, Howon Kim, mengatakan layanan medis jarak jauh masih menghadapi pembatasan regulasi di Korea Selatan dan belum ada produk atau perusahaan Korea yang ditetapkan untuk menjalankan kerja sama. Ia juga mencontohkan teknologi cermin berbasis AI yang dapat mengukur detak jantung dan tekanan darah, yang telah dikomersialkan di Korea Selatan.