
BRI Siapkan Pembelian Kembali Saham Rp1 Triliun
14 menit yang lalu
Kasus pertama yang dilaporkan pada manusia masih diselidiki, termasuk kaitannya dengan kematian pasien.
Terbit · 1 min read

Virus Shamonda, yang sebelumnya dikenal menyerang hewan, terdeteksi pada manusia untuk pertama kalinya di Prancis. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Anadolu Agency (AA), pasien mengalami komplikasi neurologis dan meninggal dunia pada awal Oktober 2026.
Kementerian Kesehatan Prancis menyebut pasien memiliki gangguan sistem kekebalan yang parah dan sedang dirawat untuk penyakit serius di kelompok rumah sakit Hospices Civils de Lyon. Lokasi infeksi diduga berada di wilayah Prancis bagian timur, tetapi tanggal dan tempat pasti penularan belum disebutkan.
Otoritas Prancis menyatakan komplikasi neurologis pasien sangat mungkin berkaitan dengan infeksi, tetapi hubungan sebab-akibatnya masih diteliti. Penyelidik menduga infeksi terjadi melalui gigitan lalat Culicoides, serangga kecil yang dapat menularkan virus tersebut.
Virus Shamonda termasuk kelompok orthobunyavirus, bersama virus Schmallenberg dan Akabane yang diketahui menyebabkan penyakit pada hewan. Menurut laporan yang sama, virus ini pertama kali terdeteksi di Nigeria pada pertengahan 1960-an dan kemudian dilaporkan secara sporadis di sejumlah wilayah Afrika dan Asia, termasuk Jepang.
Kementerian Pertanian Prancis menyebut virus tersebut teridentifikasi di Eropa pada musim panas 2026, termasuk di Prancis, Jerman, dan Swiss. Badan Kesehatan Hewan dan Tanaman Inggris juga mendeteksinya pada sapi di Jersey pada Agustus 2026.
Pada sapi, infeksi dapat menimbulkan demam, diare, kelesuan, dan penurunan produksi susu; gejala tersebut umumnya sementara. Infeksi pada hewan bunting juga dapat menyebabkan gangguan reproduksi, termasuk keguguran dan kelainan janin.
Virus ini terutama menyebar melalui gigitan lalat Culicoides. Menurut Kementerian Pertanian Prancis, belum ada bukti penularan langsung antarhewan dalam skala signifikan atau bukti ilmiah penularan melalui daging, susu, maupun produk olahannya; produk dari hewan sakit tidak boleh dikonsumsi.
Otoritas Prancis menyatakan belum menemukan bukti risiko bagi masyarakat umum berdasarkan pengetahuan yang tersedia, tetapi penyelidikan masih berlangsung. Prancis telah memberitahu Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, sementara vaksin dan pengobatan khusus untuk hewan yang terinfeksi belum tersedia.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.