
Pramono Setujui Pelebaran Jalan Raya Joglo
16 menit yang lalu
Kematian ikan mas di KJA Waduk Saguling dikaitkan dengan penurunan kualitas air dan kadar oksigen.
Terbit · 1 min read

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat mencatat 22,12 ton ikan mas di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Saguling mati massal. Menurut laporan ANTARA, kematian ikan tersebut diakibatkan fenomena upwelling yang dipicu perubahan cuaca ekstrem.
Kematian ikan terjadi setelah hujan terus-menerus. Sebarannya mencakup tujuh titik KJA di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
“Berdasarkan laporan yang diterima, total ada 22,12 ton ikan yang mati akibat 'upwelling',” kata Wiwin saat dikonfirmasi di Bandung, Selasa (3/11/2026). Menurut Wiwin, hujan terus-menerus memicu limpasan material limbah dari sungai ke waduk, yang menurunkan kualitas air dan kadar oksigen terlarut.
Berdasarkan pendataan pengepul dan pembudidaya, lokasi terdampak paling parah berada di Blok Ugrem, Kecamatan Cililin, dengan 15 ton ikan mas mati. Kematian juga tercatat sebanyak dua ton di Blok Bongas, tiga ton di Blok Cikadu, dan dua ton di Blok Balong.
Di titik lainnya, jumlah ikan mati tercatat 50 kilogram di Blok Pakuwon, Desa Jati; 30 kilogram di Blok Cijati, Desa Saguling; serta 40 kilogram di Blok Mariuk, Desa Girimukti. Menurut laporan yang sama, peristiwa itu menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya.
Wiwin meminta pembudidaya memisahkan ikan yang masih hidup dari bangkai, lalu memindahkannya ke wadah pemeliharaan terpisah untuk dibesarkan atau segera dipanen. Ia juga mengimbau agar bangkai ikan diangkat dari area KJA dan dikubur jauh dari sumber air serta permukiman untuk mencegah pencemaran.
Ikan yang masih memenuhi standar keamanan pangan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi, sedangkan ikan yang tidak layak konsumsi dapat diolah menjadi bahan baku pakan ternak dengan memperhatikan kelayakan pengolahannya. Wiwin juga menganjurkan pengurangan kepadatan ikan melalui panen sebagian, pembatasan pakan menjelang umbalan, dan penghentian pemberian pakan saat fenomena berlangsung.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Dispernakan mengimbau pembudidaya memantau kondisi perairan dan kepadatan tebar, terutama saat cuaca ekstrem. Wiwin menyebut aerasi tambahan dapat diberikan pada wadah pemeliharaan jika memungkinkan.