
BMKG Prakirakan Hujan Ringan di Jakarta
13 menit yang lalu
Fasilitas KNMP membantu menjaga mutu ikan dan memperluas pemasaran, tetapi kapasitas penyimpanan masih terbatas.
Terbit · 2 min read

Fasilitas Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Seraya Timur, Kabupaten Karangasem, Bali, membantu menjaga kualitas hasil tangkapan dan memperluas pemasaran ikan. Menurut laporan ANTARA, pengelola KNMP Seraya Timur, I Wayan Suarjana, mengatakan fasilitas penanganan hasil perikanan dari hulu hingga hilir membuat hasil tangkapan dapat dikelola lebih baik sebelum dipasarkan.
Dalam laporan tersebut, Suarjana menyampaikan keterangan saat ditemui di Karangasem pada Rabu. KNMP Seraya Timur mengelola sekitar 425 nelayan yang tersebar di sejumlah wilayah Desa Seraya Timur.
Sebelum fasilitas itu tersedia, nelayan mengelola dan memasarkan hasil tangkapan secara mandiri melalui kelompok masing-masing. Suarjana mengatakan kondisi tersebut membuat kelompok kewalahan mengelola distribusi saat hasil tangkapan melimpah, sementara kualitas dan harga ikan kurang dipertimbangkan.
Menurut laporan yang sama, fasilitas KNMP mencakup pabrik es, cold box, chiller, cold storage, serta mobil boks untuk mendukung distribusi. Ikan yang baru didaratkan dapat segera ditangani, sedangkan hasil tangkapan yang belum dipasarkan bisa disimpan terlebih dahulu.
Tongkol menjadi komoditas tangkapan yang paling dominan di Seraya Timur. Selain itu, terdapat sejumlah jenis ikan lain, termasuk ikan dasar berukuran besar yang ditangkap oleh nelayan khusus. Hasil tangkapan dipasarkan ke Klungkung, Denpasar, Badung, Tabanan, dan Buleleng; sebagian pernah dikirim hingga Banyuwangi ketika pasokan pasar di Bali terpenuhi.
Suarjana menilai fasilitas tersebut membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan. Sebelumnya, ikan yang tidak terserap pasar terkadang harus dijemur atau diolah menjadi produk lain karena keterbatasan penanganan dan distribusi.
Kapasitas penyimpanan masih menjadi kendala. Menurut Suarjana, kapasitas Air Blast Freezer (ABF) sekitar satu ton, dan hasil tangkapan dari dua atau tiga kapal sudah mencukupi kapasitas itu, sehingga tangkapan lainnya belum tertampung. Karena kapasitas terbatas, hasil tangkapan harus segera didistribusikan agar kualitas ikan tidak menurun.
Suarjana berharap pemerintah menambah kapasitas ABF dan penyimpanan dingin agar hasil tangkapan saat produksi meningkat dapat tertangani. Ia juga menyebut perlunya pembaruan kapal dan alat tangkap. Bantuan kapal yang tidak sesuai dengan model dan kebutuhan nelayan berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal; nelayan setempat selama ini menggunakan kapal tradisional dengan layar. Alat tangkap dapat rusak akibat cuaca atau aktivitas kapal lain dan bisa diganti hingga dua kali dalam setahun.