
Indonesia dan Singapura Setujui Satgas Karhutla
17 menit yang lalu
Pemkot Jakarta Selatan mendorong edukasi dan kolaborasi untuk mengurangi stigma serta mendukung layanan kesehatan jiwa.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa dalam puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional. Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanuddin Ibrahim menyampaikan ajakan itu di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, RSUD Pasar Minggu, dan RSUD Kebayoran Baru. Kegiatan ini diisi edukasi dan sosialisasi kesehatan jiwa, menurut laporan yang sama.
Firmanuddin mengatakan kesehatan jiwa perlu mendapat perhatian sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ia menyebut pembangunan manusia perlu dimulai dari jiwa, sebagaimana tercermin dalam lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jiwanya dulu yang dibangun. Kalau kita mau sehat dan selamat, ada empat faktor utama, yaitu menunaikan kewajiban pada Tuhan, hidup sesuai norma dan aturan, mensyukuri apa yang ada, serta bersabar,” kata Firmanuddin.
Firmanuddin berharap peserta dapat menerapkan pengetahuan dari para narasumber dalam pelayanan kepada masyarakat. Ia mengatakan upaya itu diharapkan membantu menangani persoalan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, di Jakarta Selatan.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Debi Intan Suri mengatakan kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur lintas sektor, termasuk guru, siswa, kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, dan elemen masyarakat lainnya. Menurut laporan yang sama, edukasi ditujukan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mengurangi stigma negatif.
Debi menyebut ketakutan terhadap stigma menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kesehatan jiwa. Ia menilai kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk mendukung lingkungan inklusif serta akses layanan.
Menurut Debi, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar berperan dalam proses pemulihan. Ia mengatakan penanganan medis yang tepat dan dukungan sosial dapat membantu orang dengan gangguan kesehatan jiwa menjalani kehidupan produktif dan bermakna. “Harapan ke depan, stigma terhadap kesehatan jiwa bisa dihilangkan. Mereka butuh didengar, diakui, dan sebenarnya butuh diobati. Mereka bisa hidup normal selama penanganan kasus jiwa ini bisa kita atasi bersama-sama melalui pengobatan yang tepat, pengakuan dari lingkungan sekitar, serta dukungan dari keluarga,” ucapnya.