
Baznas Kuningan Bantu Relawan Karhutla Ciremai
14 menit yang lalu
Sekitar 57 ribu hektare lahan pertanian di Aceh terdampak bencana, 3.000 hektare di antaranya rusak berat.
Terbit · 2 min read

Penanggung Jawab Swasembada Pangan Aceh, Agus Susanto, menyebut sekitar 57 ribu hektare lahan pertanian di Aceh terdampak bencana hidrometeorologi, dengan sekitar 3.000 hektare mengalami kerusakan berat. Menurut laporan ANTARA, penanganan lahan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027.
Agus menyampaikan hal itu saat meninjau pemulihan lahan pertanian di Desa Gampong Baro, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, Sabtu (24/10/2026). Ia menyebut dari total sekitar 57 ribu hektare itu, lahan yang kerusakannya berat tinggal sekitar 3.000 hektare.
Menurut laporan yang sama, pemulihan dilakukan melalui program optimalisasi lahan dan rehabilitasi sawah. Sejumlah lahan yang sebelumnya tertimbun lumpur kini telah dibersihkan dan kembali ditanami, sementara sebagian wilayah lain sudah memasuki masa panen.
Agus mengatakan kerusakan berat masih ditemukan di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Di Bireuen, sekitar 250 hektare lahan masih rusak berat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Ia menjelaskan pemulihan lahan dengan kerusakan berat memerlukan waktu, tenaga, anggaran, serta dukungan alat dan mesin pertanian. Pada beberapa lokasi, lumpur yang menimbun sawah mencapai ketebalan hingga dua meter sehingga pemulihannya lebih sulit.
"Pertanian ini sangat membutuhkan waktu, energi, sumber daya dan sangat tergantung pula dengan kondisi cuaca," ujarnya. Penanganan sebagian lahan rusak berat disebut telah dimulai di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya dengan mengerahkan alat berat untuk mengangkat lumpur dan material yang menimbun sawah, sebelum dilanjutkan dengan pengolahan lahan.
Pemerintah juga menyiapkan alternatif penanaman jagung bagi petani yang lahannya belum memungkinkan ditanami padi akibat timbunan lumpur yang terlalu tebal atau material batuan. Bantuan benih jagung direncanakan mulai disalurkan pada akhir Oktober 2026.
Agus menegaskan penanaman jagung itu bersifat sementara dan tidak untuk menggantikan fungsi sawah secara permanen. Pemerintah tetap berupaya mempertahankan luas baku sawah sekaligus menjaga keberlanjutan penghidupan petani.
Terkait produksi, Agus optimistis hasil panen pada musim tanam rendeng dapat meningkat dibandingkan 2025 seiring pemulihan lahan dan pertumbuhan tanaman yang mulai membaik. Produktivitas padi dengan metode konvensional umumnya lima hingga enam ton per hektare, sedangkan sistem pertanian modern ditargetkan mencapai 10 hingga 11 ton per hektare, dengan luas lahan pertanian di Aceh sekitar 202 ribu hektare.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.