
Merger Pelita Air dan Garuda Indonesia Belum Dekat
12 menit yang lalu
AIGCC menilai arah transisi listrik Indonesia berpengaruh pada Asia Tenggara dan menarik perhatian investor.
Terbit · 2 min read

Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC) menilai arah transisi energi Indonesia memengaruhi transisi energi di Asia Tenggara dan berdampak global. Menurut laporan ANTARA, CEO AIGCC Rebecca Mikula-Wright menyampaikan penilaian itu dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Senin (26/10/2026).
Laporan terbaru AIGCC, Investor Expectations for Power-Sector Transition Roadmaps in Asia, memasukkan Indonesia sebagai satu dari tiga studi kasus bersama Korea Selatan dan Malaysia. Laporan itu membahas kebutuhan investor atas peta jalan transisi yang memuat target, kejelasan pelaksanaan, dan kepastian investasi.
Menurut laporan ANTARA, AIGCC menilai Indonesia strategis karena merupakan ekonomi terbesar di ASEAN, menghadapi pertumbuhan permintaan listrik yang pesat, dan masih bergantung pada batu bara. Indonesia juga memiliki potensi energi terbarukan dan rantai pasok energi bersih.
Perkembangan industri mineral kritis membuka peluang investasi, tetapi dapat meningkatkan kebutuhan listrik sektor industri dan penggunaan pembangkit listrik mandiri.
Rebecca mengatakan Indonesia telah memiliki fondasi perencanaan ketenagalistrikan melalui Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), dan peta jalan transisi energi sektor ketenagalistrikan. Menurut AIGCC, tantangannya adalah menyelaraskan kebijakan dan menerjemahkannya menjadi proyek yang layak dibiayai.
RUPTL 2025–2034 memperkirakan kebutuhan investasi sebesar 188 miliar dolar AS, dengan sekitar 73 persen diharapkan berasal dari modal swasta. Rebecca mengatakan, “Sekitar 73 persen dari kebutuhan investasi 188 miliar dolar AS dalam RUPTL diharapkan berasal dari modal swasta. Artinya, keberhasilan rencana ini sangat bergantung pada kesiapan investor untuk masuk.”
Untuk mendukung investasi, AIGCC menyoroti perlunya kejelasan mekanisme pengadaan proyek, sumber pendapatan, pembagian risiko, dan kesiapan jaringan listrik. Laporan itu juga menekankan kejelasan arah transisi pembangkit batu bara, termasuk pembangkit listrik mandiri, serta kesiapan teknologi dan pelaksanaan proyek.
AIGCC menyambut program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) sebagai sinyal arah pengembangan ketenagalistrikan. Namun, investor akan mencermati peralihan program tersebut dari pengumuman ke pelaksanaan, serta kejelasan kebutuhan pembiayaan, kesiapan daftar proyek, dan pembagian risiko.